
Produsen dompet perangkat keras kripto, Trezor, resmi memangkas daftar pengecer pihak ketiga mereka sebagai langkah mitigasi risiko keamanan. Keputusan ini diambil sebagai tindakan pencegahan setelah muncul laporan mengenai manipulasi perangkat fisik pada produk pesaing mereka, Ledger.
Chief Commercial Officer Trezor, Danny Sanders, telah memberikan notifikasi kepada sejumlah mitra pengecer bahwa status mereka sebagai entitas resmi akan dicabut mulai 1 Januari mendatang. Pengiriman unit perangkat ke mitra yang terdampak pun dihentikan sejak Selasa lalu.
Langkah tegas Trezor dipicu oleh temuan dugaan pemasangan perangkat tambahan berbahaya atau malicious implants pada dompet keras buatan Ledger. Perangkat tambahan ini disinyalir mampu mencuri frasa pemulihan aset pengguna tanpa perlu memodifikasi perangkat lunak bawaan.
Melalui pernyataan resmi di platform X, Trezor menegaskan hingga saat ini belum ditemukan bukti yang menunjukkan perangkat buatan mereka mengalami kompromi serupa. Meski begitu, perusahaan memilih untuk bersikap hati-hati demi melindungi rantai pasok dari ancaman peretasan fisik.
Konteks keamanan ini merujuk pada insiden yang menimpa pengecer asal Asia Tenggara, CryptoBilis, yang menyebabkan kerugian aset kripto bagi pengguna dalam jumlah signifikan. Implan yang ditemukan pada perangkat Ledger tersebut bekerja dengan cara membaca data yang muncul di layar, kemudian mengirimkannya melalui jaringan seluler kepada peretas.
Fenomena ini menempatkan para pengguna aset kripto dalam kewaspadaan tinggi, terutama terkait integritas perangkat keras yang mereka beli di pasar terbuka. Dompet perangkat keras atau hardware wallet sendiri adalah alat penyimpan aset digital dalam bentuk fisik yang tidak terhubung ke internet, sehingga sering dianggap lebih aman dibanding dompet lunak.
Investigasi independen yang dilakukan oleh sejumlah analis blockchain mencatat total kerugian akibat celah keamanan ini diperkirakan mencapai USD 72 juta hingga USD 86 juta, atau setara dengan Rp1,1 triliun hingga Rp1,3 triliun. Ledger sendiri menyatakan belum dapat mengonfirmasi total nilai kerugian maupun jumlah pengguna yang terdampak secara keseluruhan.
Sebagai langkah antisipasi, juru bicara Trezor mengimbau para pengguna agar hanya membeli produk langsung dari situs resmi perusahaan. Mereka juga menyarankan pemeriksaan fisik segel kemasan untuk memastikan belum ada pihak yang membuka perangkat tersebut sebelum sampai ke tangan pemilik.
Strategi lain yang diusulkan adalah penggunaan sistem dompet multisignature. Metode ini mengharuskan otorisasi dari beberapa perangkat yang berasal dari produsen berbeda sebelum dana dapat dipindahkan.
Dengan cara ini, apabila salah satu perangkat mengalami peretasan atau manipulasi fisik, aset pengguna tetap terlindungi oleh perangkat lainnya. Langkah ini menjadi standar keamanan baru di tengah meningkatnya ancaman serangan pada rantai pasok industri kripto global saat ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor