
Perusahaan teknologi SkyAI memutuskan menjual seluruh cadangan Solana (SOL) miliknya demi mendanai aksi pembelian kembali saham atau 'buyback' senilai 201,3 juta dollar AS (sekitar Rp3,28 triliun). Langkah ini menandai perubahan total strategi aset kripto perseroan yang sebelumnya gencar mengumpulkan aset digital sebagai cadangan kas perusahaan.
Berdasarkan dokumen resmi yang disampaikan kepada Badan Pengawas Pasar Modal AS (SEC), SkyAI kini mengantongi dana tunai sebesar 223,8 juta dollar AS (sekitar Rp3,64 triliun) per 16 Oktober.
Melalui penawaran tender tersebut, pemegang saham serta pemegang waran dapat menjual kembali instrumen investasi mereka langsung kepada perusahaan dengan harga tetap. Penawaran ini mencakup hingga 95 persen dari total saham dan waran beredar. Seluruh pendanaan aksi korporasi ini berasal murni dari kas internal hasil pelepasan cadangan SOL.
SkyAI menegaskan bahwa harga pelaksanaan 'buyback' tidak lagi dikaitkan dengan pergerakan harga SOL di pasar. Padahal, syarat keterikatan harga tersebut sempat direncanakan saat rencana korporasi pertama kali diumumkan pada 11 Oktober lalu.
Meski menguras habis cadangan token SOL miliknya, perusahaan menegaskan tetap melanjutkan pengembangan platform keuangan berbasis koin stabil pada jaringan Solana yang dipadukan dengan kecerdasan buatan.
Reaksi pasar terhadap langkah ini terpantau positif dalam jangka pendek. Saham SkyAI ditutup menguat 5,3 persen ke level 2,79 dollar AS (sekitar Rp45.477) pada perdagangan Senin. Walau melonjak sekitar 65 persen dalam sebulan terakhir, nilai sahamnya masih terkoreksi 41 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Perusahaan yang dulunya bernama Sharps Technology dan bergerak di bidang alat kesehatan ini mulai mengadopsi strategi cadangan kas berbasis Solana pada Agustus 2025. Saat itu, manajemen berhasil menghimpun dana publik lebih dari 400 juta dollar AS (sekitar Rp6,52 triliun) lewat skema penempatan privat.
Satu bulan berselang, SkyAI memborong lebih dari 2 juta token SOL dengan nilai akuisisi saat itu menembus 400 juta dollar AS.
Namun, strategi penumpukan aset kripto ini berujung pada tekanan finansial yang berat akibat tingginya volatilitas pasar. Pada akhir 2025, kepemilikan SOL perseroan tercatat sebanyak 2,08 juta token dengan rata-rata harga pembelian 194 dollar AS (sekitar Rp3,16 juta) per token. Kerugian yang belum direalisasikan atau 'unrealized loss' membengkak hingga 153 juta dollar AS (sekitar Rp2,49 triliun) ketika nilai portofolio menyusut menjadi 250,1 juta dollar AS (sekitar Rp4,07 triliun).
Fenomena kerugian tersebut tidak hanya dialami oleh SkyAI sendirian. Gelombang kemerosotan harga token kripto secara luas telah menekan berbagai emiten institusional penampung Solana di pasar global.
Data industri mencatat total kerugian tidak terealisasi dari emiten publik pengumpul Solana membengkak hingga melampaui 1,5 miliar dollar AS (sekitar Rp24,45 triliun) pada Februari 2026.
Harga SOL sempat anjlok ke titik terendah sekitar 62 dollar AS (sekitar Rp1,01 juta) pada Juni. Kendati demikian, aset digital ini mulai pulih dan diperdagangkan di kisaran 104 dollar AS (sekitar Rp1,69 juta). Pemulihan harga ini dimanfaatkan oleh manajemen SkyAI untuk melikuidasi seluruh posisi mereka demi menyelamatkan neraca keuangan.
Langkah SkyAI memicu pembicaraan hangat di kalangan pelaku industri keuangan digital Indonesia. Sejumlah analis menilai pembalikan strategi ini menjadi bukti nyata tingginya risiko mengadopsi aset kripto selain Bitcoin sebagai cadangan kas utama emiten publik.
Model cadangan kas berisiko tinggi memerlukan manajemen risiko yang sangat ketat agar tidak menggerus modal kerja utama perusahaan.
Bagi investor pasar modal dan kripto di Indonesia, pergerakan SkyAI memberikan gambaran objektif mengenai dinamika korporasi global yang mengevaluasi kembali eksposurnya di pasar aset digital. Keputusan beralih dari alokasi kas pada token kripto kembali ke pembagian nilai modal tunai sering kali dipicu oleh desakan pemegang saham yang menginginkan kepastian neraca. Fokus perseroan kini bergeser penuh pada penguatan infrastruktur komersial.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor