Strive Borong Bitcoin Senilai USD 335 Juta Usai Galang Dana Investor

Perusahaan publik yang tercatat di bursa Nasdaq, Strive, kembali memperkuat posisi aset kriptonya dengan mengakuisisi 4.045 Bitcoin antara tanggal 12 hingga 16 Oktober. Pembelian ini dilakukan setelah perusahaan berhasil menghimpun dana sebesar USD 369 juta (sekitar Rp5,7 triliun) dari para investor.
Berdasarkan laporan kepada regulator yang diterbitkan pada Senin, akumulasi Bitcoin tersebut diperoleh dengan harga rata-rata USD 82.803 per koin. Transaksi ini memiliki total nilai mencapai USD 335 juta atau setara dengan Rp5,2 triliun.
Langkah korporasi ini meningkatkan kepemilikan total Strive menjadi 36.818 Bitcoin. Jika dikonversi dengan harga pasar saat ini, nilai simpanan tersebut melampaui USD 3 miliar atau sekitar Rp46,8 triliun.
Strategi pendanaan Strive memanfaatkan mekanisme pasar Wall Street yang umum digunakan perusahaan publik untuk ekspansi aset kripto. Mereka menjual saham baru kepada investor untuk mendapatkan dana tunai, yang kemudian dialokasikan sepenuhnya untuk pembelian Bitcoin sebagai cadangan kas perusahaan.
Dana segar pekan ini diperoleh melalui eksekusi waran, yakni kontrak yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham baru pada harga yang telah ditetapkan. Investor mengeksekusi lebih dari 273 juta waran yang menghasilkan 13,6 juta saham kelas A baru.
Penerbitan saham baru ini menyebabkan jumlah saham yang beredar meningkat dari 101,2 juta menjadi 114,8 juta lembar. Kondisi ini secara otomatis mendilusi porsi kepemilikan pemegang saham lama kecuali perusahaan mampu mencatatkan profit yang sepadan dengan injeksi modal baru tersebut.
Strive sendiri awalnya dikenal sebagai manajer aset anti-ESG yang didirikan oleh mantan kandidat presiden Amerika Serikat, Vivek Ramaswamy. Perusahaan mengubah arah bisnis dengan menetapkan Bitcoin sebagai cadangan kas utama sejak Mei 2025.
Keputusan ini diambil setelah serangkaian aksi korporasi besar, termasuk merger dengan Asset Entities dan akuisisi produsen alat medis Semler Scientific. Langkah strategis tersebut memungkinkan perusahaan meningkatkan kepemilikan Bitcoin hingga tiga kali lipat dibanding posisi awal tahun.
Di sisi lain, pasar global kini mengamati langkah penyedia indeks MSCI yang menerapkan aturan baru bagi perusahaan non-operasional per 30 November. Kebijakan ini menargetkan perusahaan yang gagal memenuhi syarat aset operasional dan uji keuangan tertentu, yang berpotensi mendepak perusahaan berbasis Bitcoin dari indeks global.
Merespons kebutuhan likuiditas jangka panjang, Strive juga meluncurkan penawaran saham preferen seri A dengan dividen tetap 15 persen, yang dikenal dengan kode SATS. Produk investasi ini menawarkan imbal hasil tetap kepada investor tanpa tanggal jatuh tempo, memberikan opsi pendapatan stabil di tengah volatilitas aset kripto.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor














