Harga Emas Dunia Melemah akibat Tekanan Inflasi Amerika Serikat

Harga emas dunia mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan di pasar Asia akibat tekanan rilis data inflasi Amerika Serikat yang berada di luar perkiraan. Pergerakan nilai komoditas logam mulia ini terpantau sensitif terhadap sentimen kebijakan moneter global.
Berdasarkan data pasar spot pada hari Senin, 14 September 2026, nilai emas melemah sebesar 0,2 persen ke level USD 4.339,96 atau sekitar Rp67,2 juta per troy ons. Penurunan ini memperpanjang tren negatif selama tiga pekan berturut-turut setelah pada pekan sebelumnya sempat terpangkas hingga 1,8 persen. Tekanan jual meningkat tajam begitu pelaku pasar merespons rilis data indeks harga konsumen di Washington.
Inflasi inti Amerika Serikat tanpa memperhitungkan sektor energi dan pangan tercatat naik 0,3 persen sepanjang bulan Agustus.
Laju inflasi yang memanas tersebut memicu spekulasi kuat bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, akan menaikkan suku bunga acuan. Rapat komite kebijakan moneter yang dijadwalkan berlangsung pada 15 sampai 16 September menjadi fokus utama para pelaku pasar minggu ini.
Probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada bulan ini kini melonjak hingga menyentuh angka 88 persen menurut perhitungan pasar berjangka. Kebijakan moneter ketat seperti ini biasanya menekan daya tarik emas karena aset lindung nilai tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga berkala kepada pemegangnya. Langkah pengetatan likuiditas tersebut juga berisiko memicu ketegangan politik dengan Gedung Putih.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan kritik terbuka dengan menuntut penurunan suku bunga acuan demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Ketidakpastian ekonomi global semakin diperumit oleh memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak mentah. Harga minyak jenis Brent mendekati level USD 107 atau sekitar Rp1,65 juta per barel setelah melonjak hampir 9 persen pada pekan sebelumnya.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran kapal tanker paling strategis di dunia yang menghubungkan produsen minyak Teluk dengan pasar global. Penundaan rencana pertemuan antara pihak Iran dan negara-negara Teluk untuk membahas keamanan jalur pelayaran sementara di selat tersebut memperkeruh situasi pasar. Hambatan logistik ini berpotensi memicu lonjakan biaya energi global yang pada gilirannya akan mempercepat laju inflasi dunia.
Meski menghadapi tekanan jangka pendek, sebagian besar pengamat menilai emas tetap memiliki ruang untuk bangkit kembali karena fungsinya sebagai instrumen lindung nilai.
Koreksi harga juga merambat ke komoditas logam berharga lainnya di pasar internasional. Harga perak merosot sebesar 0,8 persen menjadi USD 64 atau sekitar Rp992.000 per ons, diikuti oleh pelemahan pada harga platinum dan palladium.
Perkembangan di pasar global ini biasanya berdampak langsung pada pergerakan harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang atau Antam di dalam negeri. Pelemahan harga global sering kali dimanfaatkan oleh investor domestik untuk melakukan akumulasi pembelian secara bertahap. Sebaliknya, pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang sering menyertai kenaikan suku bunga global justru dapat menahan penurunan harga emas lokal.
Para pelaku pasar di Jakarta kini cenderung bersikap hati-hati sambil mencermati keputusan akhir dari bank sentral Amerika Serikat. Kebijakan moneter global tersebut diprediksi akan terus mendominasi arah pergerakan pasar keuangan nasional hingga akhir kuartal ketiga tahun ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)










