IHSG Melemah Tipis ke 6.678 di Tengah Ketegangan Geopolitik Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan hari Rabu, 9 September 2026, dengan koreksi tipis sebesar 0,12 persen atau 8,21 poin ke level 6.678,20.
Pergerakan pasar hari ini diwarnai dinamika yang cukup ketat. Sepanjang sesi intraday, indeks sempat menyentuh posisi tertinggi di level 6.707,30 sebelum akhirnya merosot ke posisi terendah di 6.642,15.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 308 saham berhasil menguat, namun dominasi penjualan terlihat dari 317 saham yang melemah dan 169 saham lainnya tetap stagnan. Total volume transaksi tercatat sebanyak 34,51 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp16,17 triliun.
Sektor konsumer non primer, kesehatan, dan finansial menjadi penekan utama kinerja indeks hari ini. Bank Central Asia (BBCA) tercatat sebagai pemberat terbesar yang menarik turun IHSG sebanyak 14 poin.
Situasi pasar global kini tengah dibayangi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak mentah. Brent sempat menyentuh angka USD99 per barel (sekitar Rp1,52 juta), sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD94 per barel (sekitar Rp1,44 juta).
Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran baru di kalangan investor terkait laju inflasi global. Pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed yang diprediksi akan merespons gejolak harga komoditas ini dengan langkah yang lebih konservatif.
Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik pun terpantau bergerak variatif merespons sentimen ini. Selain isu geopolitik, investor juga mengalihkan fokus pada data ekonomi China dan tingkat keyakinan konsumen domestik Indonesia yang menjadi acuan stabilitas rupiah dan pasar saham regional.
Dampak ketegangan ini tidak hanya terasa di Asia, namun juga telah menekan indeks utama Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average mengalami kontraksi sebesar 1,2 persen, yang menandai penurunan harian terdalam dalam tiga pekan terakhir.
Pasar Amerika Utara juga menghadapi tekanan tambahan dari kebijakan tarif balasan Kanada terhadap produk-produk asal Amerika Serikat. Ketidakpastian mengenai keberlanjutan rantai pasok global ini menjadi perhatian utama bagi pelaku pasar di Indonesia yang mencermati dampaknya terhadap harga komoditas ekspor.
Investor saat ini bersikap hati-hati dalam mengalokasikan portofolio mereka. Ketidakpastian geopolitik yang mencakup risiko gangguan keamanan di jalur pelayaran komoditas energi memaksa pelaku pasar meninjau kembali strategi investasi jangka pendek mereka di tengah volatilitas pasar keuangan yang masih tinggi.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)










