Ketua SK Group Chey Tae-won Ajukan Banding Atas Putusan Perceraian Rp10 Triliun

Ketua SK Group, Chey Tae-won, memutuskan untuk menerima sebagian nilai pembagian harta gono-gini dalam kasus perceraiannya yang menjadi sorotan publik Korea Selatan.
Ia bersedia membayar kompensasi sebesar 700 miliar won, atau setara dengan Rp8,2 triliun, dari total 944 miliar won (sekitar Rp11,1 triliun) yang sebelumnya ditetapkan oleh pengadilan tinggi Seoul. Langkah ini menandai upaya sistematis pria berusia 63 tahun tersebut untuk membatasi sengketa hukum yang melibatkan salah satu konglomerat terbesar di Asia.
Meski sebagian kewajiban telah diterima, Chey tetap akan menempuh jalur kasasi ke Mahkamah Agung Korea Selatan untuk sisa nominal pembagian harta tersebut. Ia menilai perhitungan hakim atas aset miliknya terlalu besar dan tidak mencerminkan kontribusi nyata yang diberikan oleh sang mantan istri, Roh Soh-yeong.
Perseteruan hukum ini bermula ketika pengadilan banding memerintahkan Chey untuk memberikan porsi besar dari kepemilikan sahamnya kepada Roh. Keputusan tersebut sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar mengenai stabilitas kepemimpinan di SK Group yang menaungi berbagai entitas bisnis teknologi hingga energi.
Bagi publik Korea Selatan, kasus ini lebih dari sekadar urusan pribadi karena melibatkan nama besar keluarga konglomerat, atau yang dikenal dengan istilah chaebol. Chaebol merupakan konglomerasi bisnis raksasa milik keluarga yang memiliki pengaruh signifikan terhadap ekonomi nasional negara tersebut.
Pihak hukum Chey menyatakan bahwa mereka akan fokus menantang metodologi perhitungan aset yang digunakan pengadilan. Fokus utama mereka adalah membuktikan bahwa kenaikan nilai saham SK tidak sepenuhnya berasal dari dukungan keluarga mendiang mantan presiden Roh Tae-woo, melainkan murni dari strategi bisnis perusahaan.
Roh Soh-yeong sendiri sebelumnya telah menuntut kompensasi dengan jumlah fantastis setelah proses pernikahan mereka selama 35 tahun resmi kandas. Sidang ini telah menarik perhatian luas karena melibatkan pembagian aset terbesar dalam sejarah perceraian di Korea Selatan.
Hingga kini, publik masih menanti keputusan final dari Mahkamah Agung terkait arah sengketa harta yang melibatkan pemimpin perusahaan semikonduktor terbesar kedua di dunia ini. Ketidakpastian ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.
Dampak dari proses hukum ini bukan hanya menyasar pada aset pribadi Chey, melainkan juga memicu perdebatan mengenai hak kepemilikan saham di perusahaan publik. Pengamat ekonomi lokal memantau ketat apakah putusan akhir nantinya akan mengubah struktur pengendalian saham di SK Group secara drastis.
Sikap kooperatif Chey untuk membayar sebagian dana tersebut dinilai sebagai taktik untuk meredam kegaduhan publik sementara ia memfokuskan tenaga di pengadilan tingkat terakhir. Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk tetap beroperasi tanpa guncangan manajemen yang terlalu hebat di tengah ketatnya persaingan industri global.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor









