Apple Menangkan Akses Awal Dokumen OpenAI dalam Gugatan Rahasia Dagang

Hakim Edward Davila secara resmi mengabulkan sebagian permohonan Apple untuk mempercepat proses pengumpulan bukti dalam gugatan rahasia dagang yang menyeret OpenAI serta beberapa mantan karyawan Apple.
Keputusan ini menjadi babak baru dalam perselisihan hukum antara raksasa teknologi asal Cupertino tersebut dengan perusahaan di balik ChatGPT. Apple menuding adanya penyalahgunaan informasi rahasia yang melibatkan mantan staf mereka untuk kepentingan pengembangan perangkat keras OpenAI.
Dalam gugatan yang diajukan beberapa bulan lalu, Apple mengeklaim bahwa Chang Liu dan Tang Tan telah membawa informasi sensitif terkait teknologi perusahaan saat mereka berpindah haluan ke OpenAI dan io Products. Informasi rahasia tersebut diduga digunakan untuk mempercepat upaya pengembangan produk perangkat keras konsumen yang tengah dirintis oleh OpenAI.
Apple juga melayangkan tuduhan serius bahwa para tergugat memperoleh akses tidak sah terhadap data milik Apple melalui serangkaian wawancara rekrutmen. Proses hukum ini dipandang sebagai upaya Apple melindungi kekayaan intelektual mereka dari eksploitasi pihak luar.
Guna memperkuat posisi hukumnya, Apple mengajukan permohonan agar pengadilan mengeluarkan perintah penghentian sementara terhadap penggunaan data yang disengketakan. Permohonan ini disertai permintaan akses awal terhadap dokumen internal, bukti forensik, serta kesaksian dari karyawan OpenAI.
Pihak OpenAI sempat melayangkan keberatan atas langkah tersebut dengan alasan bahwa permintaan Apple terlalu luas. Mereka menilai proses pengumpulan bukti yang dipercepat tidak diperlukan karena tahapan reguler akan segera dimulai.
Hakim Davila akhirnya memberikan lampu hijau bagi Apple untuk mengakses beberapa kategori dokumen dan bukti penting. Selain dokumen, pengadilan juga mengizinkan Apple melakukan pemeriksaan langsung atau deposisi terhadap Liu, Tan, serta Yu-Ting Peng.
Perwakilan korporat dari OpenAI dan io Products pun kini diwajibkan untuk memberikan kesaksian di bawah sumpah. Langkah ini diambil pengadilan untuk mengungkap sejauh mana dugaan kebocoran informasi terjadi di antara kedua belah pihak.
Meski demikian, tidak semua permintaan Apple dikabulkan oleh majelis hakim. Hakim menolak akses cepat terhadap dokumen riset dan pengembangan OpenAI yang berkaitan dengan detail teknis seperti manajemen daya serta fungsi baterai.
Hakim Davila menilai dokumen spesifik tersebut sebaiknya dibahas melalui prosedur pengumpulan bukti standar. Sementara itu, terkait definisi informasi asli milik Apple, hakim menganggap batasan yang diajukan perusahaan saat ini terlalu samar.
Apple kini memiliki waktu lima hari untuk mendiskusikan kembali batasan informasi tersebut dengan pihak tergugat. Mereka diwajibkan menyerahkan definisi yang lebih spesifik kepada pengadilan jika ingin melanjutkan tuntutan terkait data yang samar tersebut.
Persidangan ini memakan biaya yang sangat besar, mencapai jutaan dolar AS (puluhan miliar rupiah) jika dihitung dari biaya legalitas dan potensi kerugian inovasi. Kasus ini mencerminkan tensi tinggi di industri teknologi global saat perusahaan AI berupaya merekrut talenta papan atas dari perusahaan mapan.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor










