Tren Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Penilaian Kinerja Karyawan

Penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam penulisan evaluasi kinerja karyawan kini semakin marak dilakukan oleh para manajer di berbagai perusahaan. Fenomena ini memicu perdebatan mengenai efisiensi waktu kerja dan kualitas umpan balik yang diterima oleh para pekerja.
Survei terbaru dari firma pengembangan profesional Highwire menunjukkan bahwa 78 persen manajer mengaku telah menggunakan AI untuk menyusun, menyunting, atau meringkas ulasan kinerja staf mereka sepanjang tahun lalu. Sebagian besar manajer berdalih bahwa teknologi ini mampu mempercepat proses administrasi yang biasanya memakan waktu cukup panjang.
Namun, transparansi mengenai penggunaan alat ini masih sangat rendah di tingkat karyawan. Hanya 16 persen dari staf non-manajerial yang mengetahui bahwa AI memiliki andil dalam penilaian kinerja mereka. Ketakutan akan persepsi negatif di tempat kerja disebut-sebut sebagai alasan utama mengapa banyak manajer memilih untuk tidak mengungkapkan penggunaan teknologi tersebut kepada bawahannya.
Perbedaan cara penggunaan AI ini memiliki konsekuensi nyata terhadap hasil evaluasi yang diterima. Beberapa manajer menggunakan AI sekadar untuk merapikan format tulisan, sementara pihak lain memberikan data kinerja mentah kepada sistem dan membiarkan AI menulis seluruh isi ulasan tanpa campur tangan manusia yang cukup.
Tanggapan karyawan terhadap hasil evaluasi bervariasi karena tidak semua orang merasakan manfaat yang sama. Sebanyak 54 persen responden merasa ulasan kini menjadi lebih spesifik dan praktis, namun 34 persen lainnya justru menilai umpan balik tersebut terasa lebih umum dan kurang menyentuh aspek personal.
Angka 32 persen karyawan yang menganggap evaluasi kurang berguna merupakan catatan serius bagi perusahaan. Jika teknologi ini justru menurunkan nilai dari sesi pengembangan diri, maka efisiensi yang dicapai oleh manajer melalui AI dapat dianggap tidak sebanding dengan hilangnya kedalaman komunikasi antar manusia.
Di sisi lain, perusahaan teknologi seperti Synthesia mulai mengembangkan fitur yang memungkinkan karyawan melatih kemampuan berkomunikasi melalui avatar AI. Fitur ini dirancang sebagai pendamping pelatihan manajerial, bukan untuk menggantikan peran bimbingan langsung dari seorang atasan kepada bawahannya.
Meski banyak inovasi muncul, tantangan utama tetap pada bagaimana perusahaan menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan kebutuhan akan interaksi manusia yang autentik. Penggunaan AI yang berlebihan dalam aspek sensitif seperti evaluasi kinerja berisiko menciptakan jarak profesional yang justru menghambat pertumbuhan karier jangka panjang seorang karyawan.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)












