4 Alternatif Transportasi Saat Penerbangan Dibatalkan Akibat Abu Vulkanik

Erupsi Gunung Anak Krakatau memaksa Bandara Internasional Soekarno-Hatta menghentikan sementara operasional penerbangan pada 7 September 2026.
Kebijakan tersebut diambil pihak otoritas bandara guna memastikan aspek keselamatan penumpang akibat sebaran abu vulkanik yang membahayakan mesin pesawat. Penghentian aktivitas penerbangan ini berlaku hingga pukul 18.00 WIB sesuai dengan pengumuman resmi di akun media sosial pengelola bandara.
Kondisi ini memicu pembatalan sejumlah jadwal penerbangan dari maupun menuju Jakarta. Bagi penumpang yang terdampak, terdapat empat moda transportasi alternatif yang dapat dipilih agar tetap dapat melanjutkan perjalanan ke kota tujuan.
Langkah pertama yang disediakan adalah layanan bus gratis dari pihak pengelola Bandara Soekarno-Hatta bagi penumpang yang terdampak. Layanan ini dibagi dalam dua sesi keberangkatan, yakni pada pukul 14.00 WIB dan 18.00 WIB dengan ketentuan registrasi yang telah diatur oleh petugas di lapangan.
Selain fasilitas dari bandara, penumpang dapat beralih menggunakan armada bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang beroperasi di terminal-terminal utama. Moda transportasi darat ini terbukti paling fleksibel untuk menjangkau berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Opsi selanjutnya adalah menggunakan layanan kereta api yang dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia. Pihak operator telah mengumumkan penambahan rangkaian kereta api baik untuk kelas ekonomi maupun eksekutif guna mengantisipasi lonjakan permintaan penumpang pasca pembatalan penerbangan.
Kereta api sering kali dianggap sebagai pilihan yang lebih stabil dibandingkan transportasi darat lainnya, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Penumpang disarankan untuk segera melakukan pengecekan ketersediaan kursi melalui aplikasi resmi atau gerai penjualan tiket daring karena tingginya okupansi saat terjadi gangguan penerbangan.
Alternatif ketiga adalah jasa travel antarkota yang menawarkan layanan penjemputan dari titik tertentu hingga ke alamat tujuan. Layanan ini menjadi solusi bagi penumpang yang mengutamakan kenyamanan dan efisiensi waktu karena fleksibilitas rutenya dibandingkan angkutan umum massal.
Bagi calon penumpang yang berniat melakukan perjalanan antar-pulau, pilihan moda transportasi laut dapat dipertimbangkan melalui penyeberangan kapal feri. Namun, efektivitas moda ini sangat bergantung pada kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik yang sedang berlangsung di Selat Sunda.
Penggunaan kapal laut menjadi kurang ideal apabila jalur penyeberangan terdampak langsung oleh material vulkanik Gunung Anak Krakatau. Oleh karena itu, koordinasi dengan pihak operator pelabuhan sebelum membeli tiket menjadi hal yang wajib dilakukan demi menghindari penumpukan di dermaga.
Secara keseluruhan, penumpang diharapkan tetap memantau informasi terkini dari maskapai maupun pengelola transportasi terkait perubahan jadwal atau rute. Fleksibilitas dalam memilih moda transportasi darat dan laut menjadi kunci utama dalam meminimalisir kendala mobilitas saat terjadi bencana alam seperti erupsi gunung berapi.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor












