5 Alasan Mengejutkan Gen Z Ogah Beli Rumah, Ternyata Bukan Karena Boros!

Banyak anggapan miring yang menyebut generasi muda sulit memiliki hunian karena gaya hidup boros, namun realita di lapangan berkata lain. Fenomena Gen Z lebih memilih menyewa rumah ketimbang mengambil Kredit Pemilikan Rumah atau KPR ternyata dipicu oleh kalkulasi finansial yang sangat logis dan terukur.
Hasil survei yang dilakukan GoodStats bersama Jakpat di lima kota besar Indonesia mengungkapkan data yang cukup mencengangkan bagi banyak pihak. Sebanyak 75 persen responden dari generasi muda lebih tertarik menyewa hunian, sementara mereka yang berniat mengambil KPR hanya mencapai 14 persen saja.
Data ini seolah mematahkan stigma yang selama ini melekat pada generasi muda. Tidak sedikit yang menganggap pilihan ini sebagai kegagalan finansial, padahal langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas arus kas di tengah harga properti yang terus merangkak naik setiap tahunnya.
Laporan dari portal aset milik Kementerian Keuangan, yakni AESIA, memberikan perspektif tambahan yang tidak kalah menarik untuk disimak oleh publik. Sebanyak 61 persen responden secara sadar memilih menyewa hunian agar bisa menempati lokasi yang strategis, dekat dengan pusat aktivitas kerja mereka.
Kebutuhan untuk efisiensi waktu dan energi menjadi prioritas di atas kepemilikan aset jangka panjang yang membebani. Banyak anak muda mulai menyadari bahwa memiliki rumah murah di pinggiran kota sering kali diikuti dengan biaya tersembunyi yang cukup besar, seperti ongkos transportasi dan waktu yang habis di jalan karena kemacetan.
Faktor lain yang menjadi batu sandungan utama adalah besaran uang muka atau Down Payment yang kini semakin sulit dijangkau oleh rata-rata pendapatan Gen Z. Sekitar 64,8 persen responden dalam riset tersebut menyatakan bahwa beban uang muka adalah penghalang paling nyata dalam rencana mereka memiliki hunian mandiri.
Situasi ini diperparah dengan fenomena generasi sandwich yang menuntut banyak anak muda untuk memikul tanggung jawab finansial keluarga secara luas. Kondisi ini membuat mereka harus lebih berhati-hati dalam mengalokasikan pendapatan bulanan agar tetap bisa bertahan hidup dengan kualitas yang terjaga.
Keputusan untuk menyewa rumah pun kini dipandang sebagai opsi yang paling masuk akal demi menjaga fleksibilitas mobilitas. Dengan menyewa, generasi muda merasa memiliki kebebasan lebih untuk berpindah tempat tinggal sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika pekerjaan atau kebutuhan personal mereka.
Hasil riset ini tentu memberikan ruang bagi kita untuk melihat fenomena properti dari kacamata yang lebih objektif dan jauh dari prasangka negatif. Belum memiliki rumah sendiri bukan berarti seseorang telah gagal, melainkan sebuah strategi bertahan di tengah tantangan ekonomi global yang kian menekan daya beli masyarakat.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor








