Bukan Masker Medis Biasa, Ini 5 Fakta Mengejutkan Kenapa Masker COVID Tak Mempan Hadapi Abu Anak Krakatau

Bagi warga yang berada di zona terdampak erupsi Anak Krakatau, muncul kekeliruan umum terkait penggunaan masker. Banyak orang masih mengandalkan masker medis atau masker bedah yang dulu menjadi pelindung utama selama masa pandemi COVID-19.
Dicky Budiman, epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, menegaskan bahwa masker tersebut tidak dirancang untuk menyaring abu vulkanik. Ada perbedaan mendasar antara partikel biologis dan material vulkanik.
Abu vulkanik memiliki karakteristik fisik yang berbeda dari droplet atau aerosol pernapasan. Standar efektivitas masker selama pandemi difokuskan pada penahanan virus, bukan material berbutir halus dan tajam yang dihasilkan letusan gunung berapi.
Dicky merekomendasikan penggunaan masker respirator bersertifikasi industri dengan standar N95 atau FFP2. Berdasarkan data penelitian dari Durham University, efisiensi filtrasi masker jenis ini mencapai di atas 98 persen.
Sebagai perbandingan, masker bedah standar hanya memiliki efisiensi filtrasi sekitar 89 hingga 91 persen. Kondisi ini jauh lebih buruk pada masker kain yang hanya mampu menyaring sekitar 44 persen partikel abu.
Penting untuk diingat bahwa efektivitas respirator akan sirna jika pengguna tidak memakainya dengan rapat. Celah kecil pada area hidung atau dagu memungkinkan abu halus masuk ke saluran pernapasan secara langsung.
Data dari pengamatan lapangan di kawasan Gunung Sinabung menunjukkan adanya kesenjangan perilaku. Sekitar 33 persen warga memilih masker sederhana karena alasan kenyamanan, meskipun mereka tahu respirator N95 memberikan perlindungan yang lebih superior.
Bagi individu yang memiliki riwayat penyakit paru kronis, penggunaan respirator N95 tetap perlu pengawasan medis. Penggunaan jenis masker ini dapat menimbulkan resistensi napas yang berisiko memperburuk kondisi kesehatan pasien tersebut.
Konsultasi dengan dokter menjadi langkah bijak sebelum memilih perlindungan pernapasan di tengah bencana. Pilihan terbaik bukan hanya ditentukan oleh angka efisiensi, tetapi juga kesesuaian dengan kondisi fisik pengguna sehari-hari.
Menghadapi abu vulkanik tidak cukup dengan mengikuti kebiasaan lama saat pandemi. Kesadaran akan karakteristik partikel abu sangat menentukan keamanan kesehatan paru-paru Anda dalam jangka panjang.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor











