
Ada masa ketika dunia maya dianggap sebagai pelarian paling ideal untuk melepas penat dari realitas kehidupan. Namun, tren tersebut kini berbalik arah karena semakin banyak anak muda yang justru merasa lebih nyaman dengan menarik diri dari paparan layar digital secara terus-menerus.
Kecenderungan untuk mencari jeda dari koneksi internet ini sering disebut sebagai revolusi tenang atau quiet revolution. Fenomena ini menandai pergeseran gaya hidup di mana generasi Z dan milenial mulai memprioritaskan pengalaman nyata dibandingkan sekadar eksistensi di media sosial.
Laporan Deloitte Digital Consumer Trends 2025 di Inggris mencatat temuan menarik mengenai perilaku konsumen masa kini. Sekitar satu dari lima konsumen telah menghapus aplikasi media sosial dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, dengan angka keterlibatan mencapai 29 persen pada kelompok generasi Z.
Survei tersebut juga menunjukkan 50 persen responden memilih mematikan seluruh notifikasi dari aplikasi tertentu guna menjaga ketenangan pikiran. Selain itu, 18 persen lainnya mulai memanfaatkan fitur pembatas waktu layar sebagai bentuk disiplin diri terhadap perangkat elektronik.
Kelelahan digital atau social media fatigue menjadi alasan utama di balik perubahan perilaku ini. Sisi psikologis anak muda kini lebih rentan terhadap perasaan cemas akibat fenomena fear of missing out atau FOMO yang dipicu oleh arus informasi tanpa henti di dunia maya.
Berdasarkan riset yang diterbitkan dalam jurnal Universitas Surabaya mengenai emerging adulthood, terdapat kaitan erat antara kelelahan media sosial dengan kecenderungan individu untuk membandingkan penampilan diri dengan orang lain secara daring. Proses perbandingan ke atas atau upward appearance comparison ini kerap menciptakan standar hidup yang tidak realistis bagi penggunanya.
Masalah sesungguhnya tidak terletak pada platform itu sendiri, melainkan pada intensitas algoritma yang menuntut perhatian pengguna setiap saat. Kita seolah dipaksa untuk terus mengikuti kehidupan orang lain atau tren yang bergerak sangat cepat, sehingga ruang privasi dan ketenangan personal perlahan mulai memudar.
Meski demikian, menarik diri dari dunia digital bukan berarti seseorang berniat untuk sepenuhnya menghilang dari internet. Data riset di Irlandia memperlihatkan bahwa meski hampir sepertiga generasi Z menghapus satu aplikasi, mereka justru berpindah atau bergabung dengan platform digital lainnya yang dianggap lebih relevan atau tidak terlalu mengganggu.
Langkah ini menunjukkan upaya selektif dalam menggunakan teknologi. Anak muda kini lebih bijak dalam menentukan platform mana yang benar-benar memberikan nilai tambah dalam keseharian mereka, serta mana yang hanya sekadar memicu distraksi tidak penting.
Aktivitas luring atau offline kini menjadi simbol kemewahan baru bagi sebagian kalangan. Mereka mulai mengalihkan perhatian pada hobi analog, seperti mendengarkan piringan hitam atau sekadar menghabiskan waktu bersama rekan tanpa harus sibuk mengabadikan momen untuk konten di media sosial.
Kehadiran penuh dalam sebuah percakapan tanpa gangguan notifikasi menjadi bentuk kemerdekaan baru bagi mereka. Dengan membatasi penggunaan gawai, anak muda sedang mencoba merebut kembali kendali atas perhatian dan waktu yang selama ini habis terkuras oleh algoritma dunia digital yang tak pernah tidur.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor