Kisah Ruth Bader Ginsburg, Sang Hakim Agung Pembela Hak Perempuan

Ruth Bader Ginsburg, atau yang akrab disapa RBG, merupakan sosok hakim agung yang meninggalkan jejak mendalam di Mahkamah Agung Amerika Serikat.
Ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk memperjuangkan keadilan, khususnya hak-hak perempuan. RBG tutup usia pada September 2020 lalu di umur 87 tahun setelah berjuang melawan komplikasi penyakit kanker yang dideritanya.
Perjalanan hidup RBG mencerminkan kegigihan luar biasa, terutama saat ia lulus dengan nilai cemerlang dari Columbia Law School pada tahun 1959. Sayangnya, ijazah bergengsi tersebut tidak menjamin kemudahan baginya untuk mendapatkan pekerjaan di firma hukum. Ia menghadapi penolakan berulang kali hanya karena statusnya sebagai perempuan dan seorang ibu rumah tangga.
Diskriminasi serupa terus menghantui kariernya, bahkan saat ia mengabdi sebagai dosen. RBG pernah terpaksa mengenakan pakaian kebesaran untuk menyembunyikan kehamilan agar kontrak kerjanya tidak diputus sepihak oleh institusi tempatnya bekerja. Pengalaman pahit ini justru membentuk karakternya menjadi sosok yang tahan banting.
Koleganya, Hakim Antonin Scalia, bahkan menjulukinya sebagai harimau di ruang sidang. Julukan itu diberikan karena kemampuan RBG dalam mengoyak argumen yang lemah dengan ketajaman logika hukumnya.
Selama masa baktinya, RBG berhasil meruntuhkan banyak batasan hukum yang selama ini merugikan perempuan di Amerika Serikat. Ia memelopori aturan yang memungkinkan perempuan memiliki akses mandiri terhadap rekening bank dan kartu kredit tanpa harus mendapatkan izin dari suami.
Dampaknya sangat luas, termasuk perlindungan bagi perempuan agar tidak kehilangan pekerjaan karena kondisi kehamilan. Selain itu, ia memaksa lembaga pendidikan negeri untuk berhenti menerapkan sistem diskriminasi terhadap pendaftar perempuan.
Uniknya, RBG tidak hanya membela perempuan dalam setiap kasus hukum yang ditanganinya. Ia meyakini bahwa kesetaraan gender juga harus melindungi kaum pria dari stereotip yang merugikan. Sebagai contoh, ia memenangkan kasus tunjangan sosial bagi seorang pria yang ditolak oleh otoritas negara setelah istrinya meninggal dunia.
Prinsip keadilan tersebut ia rangkum dalam pernyataan yang kini melegenda. Perempuan berhak berada di mana pun keputusan dibuat dan tidak seharusnya hanya menjadi pengecualian dalam sistem sosial.
Dalam ruang sidang, RBG memiliki cara unik untuk menyampaikan sikapnya melalui busana. Jubah hakim di Mahkamah Agung Amerika Serikat awalnya didesain khusus untuk pria dengan kerah berbentuk V.
Untuk menyiasati desain tersebut, ia mulai menambahkan kerah hiasan atau jabot sebagai simbol identitasnya. Jabot ini kemudian menjadi alat komunikasi non-verbal yang sangat krusial bagi publik dan media.
Ketika RBG mengenakan kerah putih berenda yang elegan, itu merupakan sinyal persetujuannya terhadap opini mayoritas di pengadilan. Namun, publik akan segera menyadari perlawanannya saat ia memakai kerah gelap dengan detail tajam yang disebut sebagai dissenting collar.
Simbol tersebut menjadi pertanda bahwa ia menolak keputusan yang dianggap tidak adil. Sikap tegas yang ia tunjukkan di ruang sidang membuatnya dikenal dengan julukan Notorious R.B.G. bagi generasi muda.
Transformasi RBG dari seorang hakim agung menjadi ikon budaya pop membuktikan pengaruh besarnya. Melalui kecerdasan dan ketelitian, ia membuktikan bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan tidak selalu memerlukan teriakan yang lantang. Sering kali, argumen hukum yang tajam dan keteguhan hati sudah cukup untuk menggetarkan sistem yang usang.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor










