Menerapkan Konsep Self Love yang Efektif Melalui Empat Langkah Sederhana

Praktik mencintai diri sendiri atau self love sering kali disalahpahami sebagai bentuk konsumsi barang mewah atau aktivitas liburan yang menghabiskan biaya besar.
Padahal, esensi dari perilaku ini adalah pengakuan atas kelayakan diri untuk dihargai dan diprioritaskan di tengah berbagai tuntutan hidup. Upaya ini memerlukan pemahaman mendalam mengenai batasan serta kebutuhan pribadi yang sering kali terabaikan.
Psikolog klinis Inez Kristanti menekankan bahwa langkah pertama dalam mencintai diri adalah dengan belajar mendengarkan kebutuhan tubuh sendiri. Ia mengibaratkan kondisi manusia seperti ponsel yang memiliki indikator daya baterai, di mana seseorang harus peka saat energi fisik maupun mental mulai menipis.
"Ponsel itu ada tandanya kalau butuh diisi. Nah, kita dengarkan kapan kita merasa kita lagi butuh sesuatu untuk diri sendiri," ujar Inez dalam sebuah kesempatan diskusi mengenai kesehatan mental.
Inez menjelaskan lebih lanjut bahwa perhatian terhadap kebutuhan dasar seperti kualitas tidur yang cukup serta ketegasan dalam memisahkan waktu profesional dengan waktu istirahat adalah wujud nyata dari kepedulian tersebut. Tanpa adanya keseimbangan ini, produktivitas seseorang cenderung menurun dan berpotensi memicu kelelahan kronis.
Langkah kedua yang tidak kalah krusial adalah keberanian untuk mengucapkan kata tidak terhadap permintaan yang melampaui kapasitas diri. Sering kali, rasa sungkan atau takut dianggap sebagai pribadi yang kurang kooperatif menjadi hambatan utama bagi individu untuk menetapkan prioritas.
Padahal, menolak tugas atau bantuan yang memang tidak sanggup dikerjakan merupakan bentuk perlindungan diri agar tidak terjebak dalam beban kerja yang berlebihan. Hal ini sekaligus menjadi sarana untuk melatih batasan emosional yang sehat dalam hubungan sosial maupun lingkungan pekerjaan.
Selanjutnya, alokasi waktu pribadi atau me time menjadi poin ketiga dalam kerangka kerja ini. Banyak orang merasa terbebani oleh rutinitas domestik hingga mengabaikan ruang untuk melakukan kegiatan yang mereka sukai.
Inez mengingatkan bahwa durasi waktu untuk diri sendiri tidak harus panjang atau membutuhkan anggaran besar. Menyempatkan diri membaca buku selama 15 hingga 30 menit di sela kesibukan sudah cukup untuk memberikan jeda bagi pikiran agar tetap stabil.
Langkah keempat yang menjadi penutup rangkaian ini adalah proses penerimaan terhadap realitas yang berada di luar kendali. Manusia memang didorong untuk terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, namun ada batasan yang harus dipahami.
Memaksakan diri mengontrol hal-hal yang tidak mungkin diubah hanya akan membuang energi secara sia-sia. Alih-alih merenungi aspek yang berada di luar kendali, individu disarankan untuk lebih fokus membenahi hal-hal yang masih bisa dikelola dan diperbaiki secara nyata.
Strategi ini bertujuan untuk mengurangi beban stres yang disebabkan oleh pola pikir berlebihan atau overthinking terhadap masa depan. Dengan menerima keterbatasan, ketenangan batin dapat lebih terjaga dan memungkinkan seseorang untuk tetap berfungsi optimal dalam menghadapi tantangan sehari-hari.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor











