Mengenal Gyaru Makeup, Tren Riasan Ikonik Jepang yang Kembali Populer

Tren kecantikan ala Jepang, Gyaru makeup, kini kembali mencuri perhatian para pecinta riasan di berbagai platform media sosial Indonesia. Gaya riasan yang identik dengan tampilan berani ini menjadi simbol ekspresi diri yang menembus batas standar kecantikan konvensional.
Istilah Gyaru diambil dari pelafalan bahasa Jepang untuk kata gal yang merujuk pada perempuan muda yang modis.
Subkultur ini pertama kali muncul pada era 1990-an di distrik Shibuya, Tokyo, sebagai bentuk perlawanan terhadap standar kecantikan tradisional. Remaja perempuan saat itu ingin memisahkan diri dari citra kulit putih bersih dan rambut hitam yang dianggap terlalu kaku. Mereka memilih untuk tampil dengan kulit gelap dan aksesori yang mencolok sebagai pernyataan sikap.
Ciri khas utamanya meliputi penggunaan alas bedak dengan warna kulit yang cenderung kecokelatan, aplikasi eyeliner tebal, serta bulu mata palsu dramatis. Lensa kontak dengan diameter besar juga sering digunakan untuk memberikan efek mata yang lebih lebar dan bersinar.
Gaya ini terus berevolusi menjadi berbagai sub-gaya unik seperti Hime Gyaru yang bergaya feminin layaknya seorang putri kerajaan.
Ada pula sub-gaya Kogal yang terinspirasi dari modifikasi seragam sekolah menengah atas dengan rok pendek dan kaus kaki longgar. Selain itu, muncul varian Onee Gyaru yang menawarkan tampilan lebih dewasa namun tetap mempertahankan sisi glamor sebagai ruh utama subkultur ini. Masing-masing gaya mencerminkan kepribadian pemakainya yang berbeda-beda dan unik.
Belakangan ini perdebatan mengenai pakem riasan Gyaru yang asli sering muncul di berbagai ruang diskusi digital. Sebagian orang menganggap riasan ini harus mengikuti aturan ketat dari era asalnya di Jepang agar tetap autentik.
Padahal esensi dari gerakan kecantikan ini adalah kebebasan individu untuk berkreasi tanpa rasa takut terhadap penilaian orang lain.
Bagi Anda yang ingin mencoba, langkah awal adalah menyiapkan riasan dasar dengan daya tutup atau coverage yang tinggi. Meskipun versi klasiknya identik dengan kulit tan, versi modern kini lebih adaptif terhadap warna kulit asli pengguna di Indonesia. Anda dapat tetap menggunakan alas bedak yang sesuai dengan rona wajah masing-masing untuk hasil yang lebih alami.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor








:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8869222/original/008133000_1782930974-ko7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261026/original/095995400_1750653717-AP25172080086730.jpg)





