Gunung Anak Krakatau Erupsi Tiga Kali, Status Masih Siaga Radius 3 KM

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda tercatat mengalami aktivitas erupsi sebanyak tiga kali dalam kurun waktu Minggu, 6 September hingga Senin, 7 September 2026.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Lana Saria, menyampaikan informasi tersebut berdasarkan hasil pemantauan visual serta instrumental tim lapangan. Rekaman data menunjukkan adanya letusan yang disertai dengan berbagai aktivitas seismik di bawah permukaan laut selama periode dua hari tersebut.
Lana merinci bahwa instrumen pemantau merekam sembilan kali gempa hembusan dan 93 kali gempa frekuensi rendah. Selain itu terdeteksi pula 98 kali gempa fase banyak, empat kali tremor menerus, serta satu kali gempa vulkanik dangkal. Statistik ini menggambarkan kondisi internal gunung api yang tetap dinamis walaupun intensitasnya sering berubah secara mendadak.
Karakteristik letusan yang muncul saat ini diidentifikasi sebagai tipe strombolian yang menyemburkan material pijar ke udara.
Kemunculan tipe erupsi ini diinterpretasikan sebagai indikasi fase akhir dari rangkaian episode letusan panjang yang telah berlangsung sebelumnya. Meskipun demikian, evaluasi terhadap dinamika vulkanisme tetap dilakukan secara intensif untuk mengantisipasi perubahan perilaku gunung api yang tidak terduga.
Probabilitas terjadinya letusan pada periode waktu selanjutnya dinilai masih tinggi dengan ancaman berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Aliran lava juga berpotensi muncul kembali apabila aktivitas erupsi terjadi secara terus menerus dalam durasi yang lebih lama. Otoritas keamanan terus memantau pergerakan material vulkanik agar tidak membahayakan wilayah yang lebih luas.
Masyarakat dilarang keras memasuki atau melakukan aktivitas di dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif.
Larangan ini bertujuan untuk menghindari dampak langsung dari potensi awan panas dan jatuhan batu pijar yang bisa terjadi tanpa peringatan awal. Pihak berwenang menekankan agar penduduk di wilayah pesisir tetap meningkatkan kewaspadaan tanpa terjebak dalam keresahan yang berlebihan.
Sejarah mencatat bahwa Gunung Anak Krakatau muncul ke permukaan pada tahun 1927 setelah letusan besar tahun 1883 silam. Sejak saat itu, pertumbuhan gunung ini berlangsung cepat dan sering kali diikuti oleh rangkaian aktivitas vulkanik yang berpengaruh bagi wilayah sekitarnya. Pengamatan dilakukan selama 24 jam penuh melalui pos pantau yang terhubung langsung dengan sistem pengolahan data di Bandung.
Sektor transportasi udara juga mendapatkan perhatian terkait sebaran abu vulkanik yang dapat mengganggu jarak pandang serta operasional mesin pesawat.
Jalur pelayaran internasional di Selat Sunda tetap beroperasi namun dengan imbauan agar nakhoda selalu memantau informasi cuaca dan kondisi gunung. Koordinasi lintas instansi terus dilakukan guna memastikan seluruh protokol keselamatan dijalankan secara disiplin oleh semua pihak di lapangan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor












