Dermatolog Ungkap 4 Kekeliruan Rutinitas Skincare Malam yang Kerap Terjadi

Rutinitas perawatan kulit malam hari memegang peranan krusial dalam menjaga kesehatan serta vitalitas kulit wajah. Pada periode istirahat ini, kulit secara alami memasuki fase regenerasi, memperbaiki sel-sel yang rusak akibat paparan polusi, sinar matahari, serta penggunaan riasan sepanjang hari.
Namun, sejumlah kekeliruan dalam praktik perawatan kulit malam justru dapat menghambat proses pemulihan tersebut, bahkan berpotensi mempercepat tanda-tanda penuaan dini.
Menurut dr. Deirdre Hooper, seorang dokter spesialis kulit dari New Orleans, kulit berada dalam mode perbaikan setiap malam.
“Tidak seperti siang hari, Anda tidak berkeringat untuk menghilangkan apa yang ada di kulit, sehingga produk dapat terserap dengan baik,” ujar dr. Hooper.
Para ahli dermatologi mengidentifikasi setidaknya empat kesalahan umum yang sering dilakukan dalam rutinitas skincare malam, yang dampaknya dapat merugikan kesehatan kulit jangka panjang.
Kekeliruan pertama adalah melewatkan proses pembersihan wajah sebelum tidur. Sisa riasan, debu, dan minyak berlebih akan menumpuk di pori-pori, memicu penyumbatan yang berujung pada peradangan jerawat serta komedo.
Dr. Hooper menegaskan bahwa mencuci wajah di malam hari adalah tindakan yang mutlak diperlukan, terutama mengingat akumulasi kotoran sepanjang hari.
Untuk situasi di mana rasa lelah menghalangi langkah menuju wastafel, penggunaan micellar water dengan kapas di dekat tempat tidur dapat menjadi solusi pembersihan cepat.
Kesalahan kedua berkaitan dengan penggunaan retinoid topikal, seperti tretinoin. Senyawa turunan vitamin A ini terbukti ampuh merangsang pembentukan kolagen, meratakan warna kulit, serta menyamarkan kerutan.
Namun, efek samping awal seperti kulit kering, kemerahan, atau pengelupasan, seringkali membuat pengguna panik dan berhenti sebelum waktunya.
“Jangan terburu-buru! Jika Anda melihat pengelupasan atau kemerahan ringan, atau jika wajah terasa perih saat dicuci, hentikan penggunaannya selama satu atau dua malam,” saran dr. Charisse Dolitsky, dokter spesialis kulit di New York.
Dr. Charisse menekankan pentingnya mengaplikasikan retinoid seukuran kacang polong hanya pada malam hari, mengingat potensi sensitivitas terhadap sinar matahari. Penggunaan pelembap setelahnya sangat disarankan untuk menjaga hidrasi kulit dan mengurangi potensi iritasi.
Kekeliruan ketiga adalah mengabaikan pelembap di malam hari. Tingkat kelembapan alami kulit cenderung menurun secara bertahap sejak siang hingga malam hari.
Pada malam hari, ritme sirkadian kulit menyebabkan lapisan terluar lebih terbuka, yang memfasilitasi pelepasan sel rusak sekaligus penyerapan nutrisi.
“Telah terbukti bahwa tingkat hidrasi kulit cenderung menurun sejak siang hingga malam hari. Oleh karena itu, penggunaan pelembap sebelum tidur menjadi bagian penting dari rutinitas perawatan kulit,” kata dr. Joshua Zeichner, ahli dermatologi di New York City.
Tanpa hidrasi yang memadai, kulit menjadi rentan sangat kering dan lebih mudah mengalami iritasi, terutama jika menggunakan bahan aktif lain seperti retinol. Dr. Joshua merekomendasikan pelembap dengan kandungan ceramide, dimethicone, gliserin, atau hyaluronic acid untuk mengunci kelembapan optimal.
Kesalahan terakhir adalah menerapkan vitamin C pada rutinitas malam hari. Antioksidan ini berfungsi utama menetralkan radikal bebas yang menyerang kulit sepanjang hari, sehingga fungsinya kurang relevan saat kulit sedang beristirahat.
“Antioksidan ini berfungsi menetralkan radikal bebas yang menyerang kulit sepanjang hari,” jelas dr. Deirdre Hooper.
Untuk perawatan malam, vitamin E, sering ditemukan dalam bentuk tocopheryl acetate pada produk pembersih wajah atau krim, dinilai lebih efektif. Kandungan ini membantu meredakan peradangan sekaligus menjaga kekenyalan dan hidrasi kulit.
Dengan memahami dan menghindari kekeliruan ini, individu dapat mengoptimalkan proses pemulihan alami kulit di malam hari, demi menjaga kesehatan kulit wajah yang optimal dan mencegah penuaan dini.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor











