Harga CPO Bursa Malaysia Tertekan Tiga Faktor, Anjlok Tiga Hari Beruntun

Harga kontrak minyak kelapa sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan Senin, 21 September 2026. Penurunan ini sekaligus memperpanjang tren negatif komoditas CPO selama tiga hari berturut-turut.
Pergerakan harga CPO, seperti dilansir dari Investor Daily, tertekan oleh kombinasi tiga faktor utama. Ketiganya meliputi anjloknya harga minyak mentah global, penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia, serta kelesuan kinerja ekspor minyak sawit.
Data perdagangan Bursa Malaysia Derivatives menunjukkan koreksi terjadi pada berbagai tenor kontrak pengiriman. Kontrak CPO untuk pengiriman Oktober 2026 terkoreksi 10 Ringgit Malaysia, menyentuh level 4.688 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak pengiriman November 2026 juga mengalami penurunan sebesar 21 Ringgit Malaysia, mencapai 4.779 Ringgit Malaysia per ton.
Kondisi serupa melanda kontrak Desember 2026 yang tergerus 41 Ringgit Malaysia menjadi 4.857 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak Januari 2027 mencatatkan penurunan lebih dalam, yakni 54 Ringgit Malaysia, ke posisi 4.929 Ringgit Malaysia per ton.
Tekanan terberat terlihat pada kontrak pengiriman Februari 2027 yang anjlok hingga 69 Ringgit Malaysia, berhenti pada 4.992 Ringgit Malaysia per ton. Angka penurunan yang sama juga dialami kontrak Maret 2027, yang terpangkas 69 Ringgit Malaysia menjadi 5.044 Ringgit Malaysia per ton.
Salah satu pemicu utama pelemahan harga CPO adalah jatuhnya harga minyak mentah global ke level terendah dalam 11 hari. Informasi ini disampaikan Reuters, yang menyebutkan bahwa pelaku pasar kini memantau potensi kemajuan diplomasi konflik Iran dan pemulihan pengiriman minyak dari Arab Saudi.
Harga minyak mentah yang lebih rendah secara langsung mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel. Minyak sawit memang bersaing langsung dengan minyak mentah dalam penggunaan sektor energi, sehingga penurunan harga komoditas fosil membuatnya kurang ekonomis.
Faktor pemberat lainnya datang dari sisi mata uang. Ringgit Malaysia tercatat menguat tipis 0,02% terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini membuat harga CPO dalam denominasi mata uang lokal menjadi relatif lebih mahal bagi para pembeli internasional.
Kinerja ekspor CPO dari Malaysia turut menunjukkan sinyal kelesuan. Lembaga surveyor kargo memperkirakan bahwa volume ekspor produk sawit Malaysia untuk periode 1 hingga 20 September 2026 mengalami penurunan signifikan.
Estimasi penurunan bervariasi antara 12,8% hingga 24,7% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, mengindikasikan melemahnya permintaan global terhadap komoditas tersebut.
Tidak hanya itu, pasar minyak nabati pesaing juga memberikan tekanan tambahan. Kontrak minyak kedelai teraktif di Bursa Dalian melemah 0,11%, sementara kontrak CPO Dalian turun 0,92%.
Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai juga tergerus 0,45%. Pergerakan ini mengindikasikan persaingan ketat yang terus terjadi antara CPO dengan minyak nabati lainnya di pasar global.
Seorang pedagang yang beroperasi di Kuala Lumpur mengonfirmasi bahwa kombinasi harga minyak mentah yang lebih murah dan penguatan Ringgit Malaysia menjadi pemicu utama penekanan pasar saat ini. Ia juga menyoroti penurunan open interest pada hari Jumat sebelumnya sebagai indikasi minimnya partisipasi pelaku pasar dalam perdagangan CPO.
Tren penurunan harga CPO ini berpotensi memengaruhi pendapatan eksportir besar seperti Malaysia dan Indonesia, yang merupakan produsen utama minyak sawit dunia. Fluktuasi ini juga dapat berdampak pada harga produk turunan CPO di pasar domestik maupun internasional.
Produk turunan ini relevan bagi industri makanan, kosmetik, dan bahan bakar. Pasar global diperkirakan akan terus mencermati dinamika pasokan dan permintaan, serta perkembangan ekonomi makro yang memengaruhi sektor komoditas secara lebih luas.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor











