Harga Minyak Dunia Tembus US$96 per Barel Akibat Konflik Kapal di Selat Hormuz

Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Senin, 7 September, menyusul eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang menyasar kapal tanker di Selat Hormuz.
Data Reuters mencatat harga minyak mentah Brent naik 52 sen menjadi US$96,80 per barel, sementara West Texas Intermediate bertambah 66 sen ke level US$92,14 per barel.
Kenaikan harga ini dipicu oleh kekhawatiran pasar mengenai gangguan distribusi pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi energi global yang menyalurkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia setiap harinya.
Situasi memanas setelah pasukan Amerika Serikat menyerang tiga kapal tanker Iran pada Sabtu, 5 September. Komando Pusat AS mengonfirmasi salah satu kapal tersebut diserang di dekat Pulau Kharg, wilayah yang dikenal sebagai pusat ekspor utama bagi Iran.
Tidak tinggal diam, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran mengeklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap kapal tanker di rute tidak resmi Selat Hormuz. Selain itu, mereka juga menargetkan tiga kapal milik Amerika Serikat di lokasi lain.
Perusahaan intelijen maritim Marisks menyatakan aksi saling serang ini merupakan eskalasi besar dalam konflik maritim antara kedua negara. "Kapal tanker komersial kini sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik," tulis Marisks dalam analisisnya.
Dampak ekonomi dari konflik ini mulai terlihat nyata di lapangan. Perusahaan analitik Kpler mencatat arus kapal komoditas di Selat Hormuz merosot tajam menjadi rata-rata 10 kapal per hari dalam sepuluh hari terakhir, angka terendah sejak Mei lalu.
Pemerintah Iran juga memberikan sinyal adanya pembatasan pelayaran yang lebih luas ke depan. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyebut zona terbatas akan segera diumumkan di luar jalur Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya atau OPEC+ memilih mempertahankan kebijakan produksi untuk periode Oktober. Keputusan ini diambil dalam pertemuan tingkat menteri pada Minggu, 6 September, tanpa perubahan kuota yang berarti.
Analis dari lembaga keuangan ANZ memprediksi skenario terburuk adalah kebuntuan yang berkepanjangan dengan serangkaian aksi militer terbatas. Hal tersebut dipastikan akan menekan volume ekspor minyak hingga sisa tahun 2026.
Proyeksi pemulihan pasokan hanya akan terjadi secara bertahap menjelang akhir kuartal IV 2026. Ketidakpastian pasokan ini membuat pelaku pasar energi dunia terus memantau pergerakan armada di sepanjang jalur maritim krusial tersebut.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor








