
PT BYD Motor Indonesia resmi menghentikan seluruh aktivitas impor mobil secara utuh guna mengalihkan fokus pada perakitan lokal di pabrik Subang, Jawa Barat. Langkah strategis dari produsen otomotif asal China ini menandai babak baru penetrasi pasar mereka di tanah air setelah meresmikan fasilitas manufaktur tersebut.
Keputusan penghentian impor mobil ini diambil untuk memastikan perusahaan dapat berkonsentrasi penuh pada optimalisasi kapasitas produksi dalam negeri.
Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengonfirmasi bahwa unit impor yang masih berada di jaringan dealer merupakan sisa pasokan sebelumnya. Jumlah unit impor yang tersisa saat ini diklaim sudah sangat terbatas dan tidak akan mendapatkan penambahan pasokan lagi dari luar negeri. Menurut Luther, sisa stok tersebut akan dibiarkan habis terjual secara natural seiring dengan bergulirnya proses transisi produksi.
Saat ini, fasilitas perakitan di Subang telah mulai memproduksi beberapa tipe kendaraan, termasuk model Atto 1 dan M6 DM. Ke depan, pabrik tersebut dijadwalkan untuk merakit model tambahan seperti M6 EV serta MPV premium Denza D9 guna memenuhi permintaan pasar domestik.
Sebelumnya, seluruh lini kendaraan listrik yang dipasarkan oleh produsen asal Shenzhen tersebut di Indonesia didatangkan langsung dari fasilitas produksi global mereka.
Beberapa model populer lain seperti Dolphin, Atto 3, Seal, dan Sealion 7 saat ini masih berstatus sebagai produk impor. Meskipun demikian, pihak manajemen menyatakan peluang untuk merakit model-model tersebut secara lokal tetap terbuka lebar di masa mendatang. Skema lokalisasi produk akan diprioritaskan bagi tipe kendaraan yang memiliki volume penjualan serta potensi pasar terbesar di Indonesia.
Fasilitas manufaktur yang berlokasi di kawasan industri Subang ini berdiri di atas lahan seluas 126 hektar. Nilai investasi yang dikucurkan untuk pembangunan pabrik tersebut mencapai Rp 11,6 triliun dengan target kapasitas produksi maksimal hingga 150.000 unit per tahun.
Langkah lokalisasi ini juga selaras dengan komitmen investasi yang disepakati bersama Pemerintah Indonesia demi memperoleh insentif bea masuk. Melalui Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023, pemerintah memberikan kelonggaran impor bagi produsen yang berkomitmen membangun fasilitas manufaktur di dalam negeri. Dengan beroperasinya pabrik ini, produsen berkewajiban memenuhi target tingkat komponen dalam negeri yang telah ditetapkan oleh Kementerian Perindustrian.
"Kita memang berkomitmen untuk setop impor karena kita sudah memiliki pabrik sendiri di Indonesia," ujar Luther saat ditemui di Subang, Kamis, 3 September.
Transisi dari skema impor menuju produksi lokal diharapkan mampu menekan biaya logistik sehingga harga jual kendaraan menjadi lebih kompetitif bagi konsumen domestik. Selain itu, keberadaan pabrik berskala besar ini diproyeksikan dapat menyerap ribuan tenaga kerja lokal serta memperkuat ekosistem industri komponen otomotif nasional.
Kehadiran investasi jumbo dari korporasi global ini memperketat persaingan pasar kendaraan listrik di Asia Tenggara, khususnya antara Indonesia dan Thailand yang juga menjadi basis produksi regional. Indonesia diuntungkan oleh ketersediaan bahan baku nikel yang melimpah untuk pengembangan industri hilir baterai kendaraan listrik. Efisiensi rantai pasok global kini menjadi fokus utama para produsen otomotif untuk memenangkan persaingan di pasar berkembang.
Pihak asosiasi industri otomotif memperkirakan pangsa pasar mobil listrik di Indonesia akan terus bertumbuh seiring dengan semakin banyaknya model yang dirakit secara lokal.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor