
Pelatih Manchester United, Michael Carrick, secara terbuka meminta maaf kepada para suporter setelah timnya menelan kekalahan telak 1-4 dari Como dalam lanjutan fase liga Liga Champions 2026/2027. Hasil memalukan ini semakin memperparah periode sulit Setan Merah di kancah Eropa.
Pertandingan yang berlangsung di markas Como pada Rabu, 21 Oktober 2026 malam WIB, berujung pada kekalahan yang tak terduga. Ini sekaligus meningkatkan tekanan signifikan terhadap Carrick yang tengah berjuang membangkitkan performa tim.
Carrick dengan tegas menyatakan menerima tanggung jawab penuh atas hasil buruk tersebut.
“Semua orang harus bertanggung jawab atas hasil ini. Saya bertanggung jawab penuh atas tim dan penampilannya. Tanggung jawab itu berhenti pada saya, dan saya menerima hal tersebut sepenuhnya,” ujar Carrick kepada TNT Sports setelah laga.
Mantan gelandang legendaris Manchester United itu juga mengaku sangat kecewa melihat klub yang telah lama dibelanya tampil di bawah standar. Ia menekankan tidak ada alasan yang dapat membenarkan penampilan timnya malam itu.
“Saya sangat peduli terhadap klub ini. Melihat penampilan seperti itu jelas tidak bisa diterima,” lanjutnya, menyoroti kekecewaannya yang mendalam.
Bermain di kandang lawan, Manchester United langsung dikejutkan gol cepat Nico Paz saat laga baru berjalan dua menit. Gol pembuka ini langsung menggoyahkan mentalitas tim tamu.
Gol tersebut mencatatkan rekor buruk bagi Manchester United sebagai klub Inggris pertama yang kebobolan dalam dua menit awal pada dua pertandingan Liga Champions secara beruntun. Sebelumnya, mereka juga takluk di tangan Atletico Madrid dengan skenario serupa.
Tuan rumah Como, sebuah tim yang tidak diunggulkan, berhasil menggandakan keunggulan melalui Anastasios Douvikas. Ia dengan tenang menyelesaikan umpan matang dari Paz dengan mencungkil bola melewati kiper Senne Lammens.
Nico Paz, bintang muda Como, kemudian mencetak gol keduanya, disusul gol Jacobo Ramon yang menjadikan skor 4-0 untuk keunggulan Como. Dominasi tim tuan rumah sangat terasa sepanjang pertandingan.
Manchester United hanya mampu membalas sekali melalui Joshua Zirkzee pada masa tambahan waktu, sebuah gol hiburan yang tidak mengubah esensi kekalahan memalukan tersebut.
Kekalahan ini menjadi yang keenam bagi Manchester United dengan selisih minimal tiga gol dalam sejarah Liga Champions. Terakhir kali mereka mengalami kekalahan serupa adalah saat menghadapi Barcelona pada April 2019.
Lebih lanjut, tim berjuluk Setan Merah juga menorehkan catatan buruk dengan menelan kekalahan beruntun di Liga Champions dengan selisih lebih dari satu gol. Situasi menyedihkan ini terakhir kali mereka alami pada tahun 2003.
Ketika ditanya mengenai posisinya sebagai pelatih, Carrick menyatakan belum ingin memikirkan masa depannya. Ia memilih berfokus pada evaluasi pertandingan dan memahami akar masalah di balik performa buruk timnya.
“Ini bukan tentang saya. Yang terpenting sekarang adalah mencerna pertandingan ini dan memahami apa yang terjadi,” tegas Carrick, mengalihkan fokus dari spekulasi pribadi.
Sebelum kekalahan telak ini, Manchester United memang telah menghadapi persoalan internal yang pelik. Bek andalan, Lisandro Martinez, melontarkan kritik terbuka terhadap jajaran klub terkait kebijakan perekrutan pemain pada musim panas lalu, dengan Direktur Sepak Bola MU, Jason Wilcox, disebut menjadi sasaran utamanya.
Wilcox sendiri sebelumnya juga terlibat perselisihan sengit dengan pelatih Ruben Amorim pada Januari lalu. Konflik internal tersebut berujung pada pemecatan Amorim setelah 14 bulan menukangi Setan Merah, memperlihatkan betapa rumitnya dinamika di dalam klub.
Carrick, yang menghabiskan 12 tahun sebagai pemain Manchester United dan menjadi bagian dari skuad juara Liga Champions 2008, sangat merasakan kekecewaan para pendukung. Pengalamannya sebagai legenda klub memberinya perspektif unik tentang arti seragam merah tersebut.
Seusai laga yang mengecewakan di Como, ia secara khusus menyampaikan simpati mendalam kepada para pendukung yang telah melakukan perjalanan jauh untuk menyaksikan tim kesayangan mereka. “Mereka adalah denyut nadi klub ini dan akan selalu begitu. Saya harus meminta maaf atas penampilan tim setelah mereka melakukan perjalanan untuk datang ke sini. Saya benar-benar memahami perasaan mereka,” pungkas Carrick.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor