Laga PSG vs Barcelona Terancam Tanpa Penonton Akibat Kerusuhan di Paris

Pertandingan Paris Saint-Germain melawan Barcelona pada fase liga Liga Champions di Paris menghadapi ancaman pembatasan kehadiran penonton. Langkah ini diambil oleh otoritas Prancis guna mengantisipasi potensi kerusuhan susulan yang dapat mengganggu jalannya laga bergengsi tersebut.
Aparat keamanan Prancis telah menyiagakan sekitar 5.000 petugas kepolisian untuk menjaga keamanan di sekitar stadion dan titik rawan lainnya.
Selain pengerahan ribuan personel, kepolisian juga menyiapkan kendaraan lapis baja dan meriam air untuk menghalau massa jika terjadi gangguan ketertiban. Otoritas setempat bahkan mempertimbangkan pemberlakuan jam malam dalam durasi singkat bagi warga di wilayah tersebut. Kebijakan ini dapat membuat pertandingan di Stadion Parc des Princes berlangsung di balik pintu tertutup atau tanpa kehadiran suporter di tribun.
Rencana pengamanan super ketat ini muncul sebagai respons setelah Prancis dilanda gelombang kerusuhan besar sepanjang akhir pekan lalu. Berdasarkan laporan terkini, setidaknya 3.000 unit usaha mengalami aksi penjarahan atau kerusakan fisik akibat amuk massa.
Pihak berwenang juga mencatat lebih dari 2.400 orang telah ditangkap dalam rangkaian aksi kekerasan yang meluas ke berbagai wilayah tersebut. Kepolisian Paris kini mulai mengaktifkan pemantauan udara secara intensif menggunakan wahana terbang tanpa awak atau dron untuk mengawasi situasi ibu kota dari ketinggian. Izin khusus telah dikeluarkan agar polisi dapat mengerahkan hingga enam unit dron sekaligus demi mendeteksi potensi aksi terorisme maupun gerakan massa yang mencurigakan.
Seorang sumber dari Kementerian Dalam Negeri Prancis menjelaskan bahwa kondisi keamanan saat ini masih berada dalam tahap yang sangat rentan.
Kekerasan memiliki kemungkinan besar untuk meletus kembali sewaktu-waktu, terutama ketika banyak orang mulai berkumpul pada satu lokasi yang sama. Situasi sensitif ini menjadi alasan utama mengapa aparat tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun dalam penyelenggaraan acara olahraga skala internasional.
Petugas dari pasukan khusus juga akan diterjunkan untuk memperkuat barisan pengamanan selama pertandingan berlangsung di Paris. Kehadiran personel tambahan ini merupakan bagian dari langkah antisipasi menyeluruh terhadap kelompok-kelompok yang diduga berniat menyasar kegiatan olahraga sebagai sasaran kerusuhan. Sumber tersebut mengonfirmasi bahwa ribuan petugas akan bersiaga penuh di lapangan guna memastikan keamanan seluruh pihak yang terlibat.
Riwayat pertandingan penting Paris Saint-Germain sebelumnya sering kali dibayangi oleh insiden kerusuhan di sejumlah wilayah Prancis, baik saat tim meraih kemenangan maupun kekalahan.
Sebagai contoh, setelah PSG mengalahkan Arsenal dalam perebutan gelar Liga Champions Eropa, sebanyak 225 suporter harus berurusan dengan hukum. Mereka dijerat dengan berbagai tuduhan pidana mulai dari penyerangan terhadap petugas polisi, aksi pencurian, hingga penggunaan kembang api secara ilegal di ruang publik.
Opsi penerapan jam malam tetap menjadi kartu terakhir yang akan diambil jika eskalasi massa tidak dapat diredam dengan penjagaan biasa. Aparat telah menyiapkan skema pengamanan berlapis yang tidak hanya terfokus pada stadion, tetapi juga mencakup seluruh wilayah strategis di Paris. Penggunaan kendaraan lapis baja dan meriam air disiapkan sebagai alat penghalau utama jika barikade polisi mulai ditembus oleh pengunjuk rasa.
Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, menyatakan bahwa penerapan jam malam secara terarah pada beberapa hari terakhir terbukti efektif meredakan ketegangan.
Ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh jajaran kepolisian, gendarmerie, dan pejabat daerah yang telah bekerja keras menjalankan protokol keamanan ketat. Gendarmerie merupakan kesatuan kepolisian Prancis yang memiliki status militer dan bertugas menjaga keamanan publik di bawah koordinasi Kementerian Dalam Negeri.
Lecornu menegaskan bahwa pembatasan mobilitas tambahan dapat diberlakukan kembali apabila kondisi di lapangan dinilai mulai tidak kondusif bagi keselamatan warga. Keputusan mengenai jam malam baru akan diambil oleh para prefek atau kepala wilayah melalui koordinasi intensif dengan wali kota di masing-masing lokasi. Langkah darurat ini sebelumnya telah diterapkan di beberapa kota besar setelah kerusuhan pecah dan mengakibatkan kerusakan infrastruktur publik yang cukup masif.
Wilayah Paris dan Marseille dilaporkan mulai mengalami situasi yang relatif tenang pada Selasa dini hari setelah kebijakan darurat tersebut diberlakukan secara tegas.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor









