Liga Champions: Reuni Emosional Jose Mourinho dalam Laga Real Madrid Vs Inter Milan

Pertandingan pembuka Liga Champions Real Madrid vs Inter Milan di Stadion Santiago Bernabeu menjadi panggung reuni emosional bagi pelatih tuan rumah, Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal tersebut kembali dipertemukan dengan klub Italia yang pernah dibawanya merengkuh kejayaan tertinggi di benua Eropa enam belas tahun silam.
Mourinho meninggalkan kenangan manis di Giuseppe Meazza saat mempersembahkan gelar treble bersejarah bagi publik Milan pada tahun 2010.
Kini, sejarah membawa juru taktik berjuluk The Special One itu kembali berdiri di kubu seberang sebagai nakhoda Los Blancos. Madrid menatap laga perdana kompetisi antarklub Eropa ini dengan ambisi besar setelah mengawali musim domestik dengan dinamika yang cukup bergegolak. Kekalahan tipis 0-1 dari Real Betis di kompetisi domestik La Liga akhir pekan lalu menjadi cambuk yang menyadarkan skuad asuhan Mourinho dari tren positif awal musim.
Kekalahan tersebut menjadi pil pahit pertama bagi Madrid setelah sebelumnya sukses mengemas tiga kemenangan beruntun di liga domestik. Kegagalan penyerang anyar Kylian Mbappe dalam mengeksekusi penalti pada masa cedera memastikan catatan sempurna mereka terhenti.
"Kami semua menyadari ada ruang yang harus segera diperbaiki, baik dalam efisiensi penyelesaian akhir maupun ketenangan menguasai aliran bola," ujar Mbappe yang mengakui kelemahan lini serang timnya.
Di sisi lain, Liga Champions memiliki arti tersendiri bagi Mourinho yang gagal mempersembahkan trofi berjuluk Si Kuping Lebar ini pada periode pertamanya melatih Madrid antara tahun 2010 hingga 2013. Kala itu, prestasi terbaiknya di kompetisi tertinggi Eropa bersama klub ibu kota Spanyol tersebut hanyalah mencapai babak semifinal tiga kali berturut-turut. Namun, pelatih kawakan itu menegaskan bahwa ia tidak ingin terjebak dalam romantisme masa lalu ataupun beban kegagalan masa silam.
"Ketika saya meninggalkan klub ini pada tahun 2013, kami memenangkan apa yang bisa dimenangkan dan menerima kekalahan dengan kepala tegak karena kami telah memberikan segalanya," tutur Mourinho dengan nada tegas dalam konferensi pers sebelum pertandingan. "Fokus saya sepenuhnya tertuju pada masa kini dan apa yang bisa kami bangun bersama skuad yang ada sekarang."
Mourinho menambahkan bahwa membangun kestabilan taktik yang konsisten jauh lebih mendesak dilakukan demi meredam tuntutan tinggi publik Madrid yang selalu menuntut trofi setiap musim.
Sementara itu, Inter Milan datang ke ibu kota Spanyol membawa modal kepercayaan diri yang sangat tinggi setelah memetik kemenangan dramatis di kancah domestik Serie A. Pasukan Nerazzurri menunjukkan mentalitas baja setelah sempat tertinggal dua gol terlebih dahulu dari Napoli sebelum akhirnya menyudahi laga dengan skor 3-2. Dua gol dari penyerang Marcus Thuram dan kapten tim Lautaro Martinez menjadi bukti ketajaman lini depan juara bertahan Liga Italia tersebut.
Gol penentu kemenangan Martinez yang tercipta pada menit ke-91 tidak hanya mengamankan tiga poin penting di liga domestik, tetapi juga membakar semangat tempur armada asuhan Simone Inzaghi. Pertemuan kontra Madrid ini sekaligus membangkitkan kenangan manis para pendukung Inter yang merindukan kejayaan Eropa era 2010 saat mereka dilatih oleh Mourinho.
Pertarungan taktis di lini tengah diprediksi akan menjadi kunci jalannya laga mengingat kedua tim memiliki karakter permainan transisi cepat yang sangat mematikan.
Stadion Santiago Bernabeu diperkirakan akan dipadati oleh puluhan ribu pendukung setia yang menantikan respons positif tim kesayangan mereka setelah hasil mengecewakan di liga domestik. Sejarah pertemuan kedua tim di panggung Eropa selalu menghadirkan drama dengan tensi tinggi yang memanjakan para pencinta sepak bola di seluruh dunia. Bagi publik Indonesia, laga klasik ini akan disiarkan langsung pada Rabu dini hari pukul 02.00 WIB melalui saluran televisi pemegang hak siar resmi.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor








