
Lionel Messi telah menyusun rencana masa depan setelah karier sepak bolanya berakhir sebagai pemain.
Peraih delapan gelar Ballon d'Or ini secara terbuka menyatakan ketertarikan untuk beralih peran menjadi pemilik klub, alih-alih mengikuti jejak mantan rekan setimnya yang memilih kursi pelatih. Saat ini, Messi masih terikat kontrak dengan klub MLS, Inter Miami, hingga pengujung musim 2028.
Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Luzu TV, Messi menegaskan posisinya. Ia mengaku kurang berminat menjalani kehidupan sebagai pelatih yang harus terus berada di lapangan.
Sebaliknya, ia memiliki visi membangun sebuah tim dari nol hingga menjadi institusi besar yang disegani. Fokus utama sang bintang bukan sekadar mencari keuntungan bisnis semata.
Messi ingin membangun sebuah ekosistem yang memberikan kesempatan bagi talenta muda untuk berkembang di dunia profesional. Langkah nyata mulai terlihat melalui keterlibatan Messi dalam kepemilikan klub di Spanyol dan Uruguay.
Di Spanyol, Messi telah mengakuisisi saham mayoritas CD Eldense yang berlaga di Segunda Division. Selain itu, ia juga memiliki keterikatan dengan UE Cornella sejak April 2026 sebagai bagian dari pengembangan portofolio sepak bolanya.
Tidak berhenti di Eropa, Messi turut menggandeng Luis Suarez dalam proyek Deportivo LSM di Uruguay. Klub tersebut berkompetisi di kasta keempat liga domestik Uruguay dengan orientasi utama pada pembinaan pemain usia muda.
Proyek Deportivo LSM adalah klub amatir yang berkompetisi di liga level rendah untuk menjaring bibit unggul. Keterlibatan di klub-klub kecil ini memberi Messi pengalaman manajemen langsung sebelum ia benar-benar pensiun dari lapangan hijau.
Di sisi lain, masa depannya di Amerika Serikat tampak sudah terencana dengan matang. Kontrak jangka panjangnya dengan Inter Miami mencakup hak kepemilikan saham bagi dirinya setelah gantung sepatu nanti.
Ini merupakan skema yang lazim dalam dunia olahraga Amerika, di mana pemain bintang sering kali mendapatkan opsi kepemilikan setelah kontrak bermain habis. Hak kepemilikan saham di Inter Miami menjadi pintu masuk Messi ke jajaran manajemen klub elit.
Di luar urusan manajerial klub profesional, ia juga menyelenggarakan Messi Cup. Turnamen ini menjadi ajang kompetisi bagi pemain di bawah usia 16 tahun dari berbagai negara untuk unjuk gigi.
Keputusan Messi untuk tidak menjadi pelatih adalah langkah strategis yang cukup jarang diambil pemain sebesar dirinya. Biasanya, mantan pemain kelas dunia seperti Zinedine Zidane atau Xavi Hernandez langsung beralih ke jalur kepelatihan.
Namun, Messi lebih memilih jalur korporasi dan pengembangan bakat muda. Ini menunjukkan pergeseran fokus dari performa individu di lapangan menjadi pengelola organisasi sepak bola secara luas.
Dengan seluruh rencana ini, Messi diprediksi tetap akan menjadi sosok berpengaruh dalam industri sepak bola global. Dunia mungkin akan melihat wajah berbeda dari sang legenda dalam dekade mendatang, yakni sebagai pemilik klub yang visioner.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor