
Ribuan mahasiswa turun ke jalan di Tirana, ibu kota Albania, pada hari Rabu untuk menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran. Aksi ini merupakan gelombang protes anti-pemerintah hari kedua yang berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di negara tersebut.
Situasi memanas setelah massa mulai melakukan penyerangan terhadap sejumlah gedung pemerintahan di pusat kota. Beberapa fasilitas publik, termasuk kantor kementerian pendidikan, kementerian keuangan, serta kantor perdana menteri, menjadi sasaran amuk massa.
Sebagian bangunan kementerian pendidikan bahkan sempat dilaporkan terbakar akibat lemparan benda dari pengunjuk rasa. Petugas kepolisian antihuru-hara terpaksa bertindak tegas dengan mengerahkan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan mahasiswa yang mengenakan masker gas dan penutup wajah.
Kericuhan ini merupakan eskalasi dari tuntutan awal mahasiswa yang menginginkan kondisi pendidikan lebih baik serta peluang kerja yang lebih luas. Namun, narasi demonstrasi kini meluas menjadi kritik keras terhadap sistem pemerintahan yang dianggap sarat korupsi.
Salah satu peserta aksi, Enida Bimi, menegaskan bahwa gerakan ini tidak lagi sekadar menuntut perbaikan fasilitas kampus. Ia menyebut rakyat Albania sudah sangat marah dengan sistem yang ada saat ini serta tingkat kriminalitas yang tinggi.
Di sisi lain, pemerintah Albania merespons kejadian ini dengan nada kecaman. Menteri Ekonomi Delina Ibrahimaj menyatakan bahwa pembakaran institusi negara bukanlah bentuk protes damai, melainkan tindakan kriminal yang membahayakan nyawa orang lain.
Wakil Perdana Menteri Albania, Albana Kociu, turut mengeluarkan imbauan agar masyarakat tetap tenang dan menahan diri. Ia menekankan bahwa perubahan di negara tersebut tidak harus dicapai melalui kehancuran infrastruktur.
Konteks ketegangan ini berakar dari gerakan yang dikenal sebagai Flamingo Revolution. Gerakan ini merupakan rangkaian protes panjang yang menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama.
Gelombang kemarahan publik dipicu oleh rencana proyek pariwisata mewah yang dikaitkan dengan Jared Kushner, menantu Donald Trump. Masyarakat menduga adanya praktik korupsi dan minimnya transparansi dalam pengambilan kebijakan tersebut.
Pemimpin oposisi dari Partai Demokrat Albania, Sali Berisha, justru memberikan apresiasi kepada massa mahasiswa yang turun ke jalan. Ia memuji keberanian para mahasiswa tersebut dalam menghadapi rezim yang berkuasa.
Hingga saat ini, pihak berwenang dilaporkan telah menangkap enam belas orang terkait aksi kekerasan tersebut. Kondisi keamanan di Tirana masih terus dipantau menyusul kekhawatiran adanya protes lanjutan di titik-titik vital ibu kota.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor