Alasan Pemerintah China Wajibkan Siswa Kelas Sembilan Membaca Novel Jane Eyre

Pemerintah China baru saja mengambil langkah mengejutkan dalam kurikulum pendidikan nasional mereka.
Otoritas pendidikan di negara tersebut kini mewajibkan seluruh siswa kelas sembilan untuk membaca novel klasik Jane Eyre karya Charlotte Bronte. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya memperluas cakrawala literasi siswa terhadap sastra dunia.
Karya sastra dari periode Victoria ini memang memiliki posisi unik di hati pembaca China selama beberapa dekade terakhir. Jane Eyre bukan sekadar bacaan wajib di sekolah, melainkan simbol perjuangan kemandirian seorang wanita dalam menghadapi tekanan sosial yang opresif.
Karakter utama dalam novel tersebut, Jane, digambarkan sebagai sosok yang sangat gigih memperjuangkan kesetaraan derajat manusia. Bagi banyak pelajar di China, nilai-nilai keteguhan hati Jane Eyre dipandang sebagai inspirasi untuk menghadapi dinamika kehidupan modern yang sangat kompetitif.
Pemerintah China menilai bahwa pesan moral dalam buku tersebut memiliki korelasi dengan perkembangan karakter generasi muda. Mereka berharap siswa dapat belajar tentang martabat diri, keadilan, dan kekuatan integritas individu meskipun berada dalam situasi sulit.
Penerbitan novel ini dalam versi bahasa Mandarin telah mengalami lonjakan permintaan yang drastis di pasar buku domestik. Data industri perbukuan menunjukkan peningkatan penjualan hingga 40 persen, atau setara dengan kenaikan pendapatan sekitar CNY 15 juta (sekitar Rp33 miliar) dalam satu kuartal terakhir saja.
Sebagian pengamat pendidikan berpendapat bahwa pemilihan karya Barat oleh pemerintah mencerminkan pergeseran strategi literasi yang lebih terbuka. Meski demikian, fokus utama tetap pada bagaimana siswa mampu menyerap nilai-nilai kemanusiaan universal tanpa kehilangan jati diri sebagai warga negara.
Di sisi lain, sekolah-sekolah di berbagai provinsi kini tengah menyiapkan modul pembelajaran khusus untuk membedah isi novel tersebut. Guru akan dituntut untuk memfasilitasi diskusi mendalam mengenai aspek keadilan sosial yang ada dalam alur cerita Jane Eyre.
Diskusi mengenai kesetaraan ini menjadi topik hangat di kalangan akademisi dan orang tua siswa di China. Mereka berharap melalui bacaan wajib ini, anak-anak tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan emosional yang tinggi terhadap lingkungan sekitar.
Pengenalan karya sastra klasik Barat seperti Jane Eyre diharapkan mampu menyeimbangkan beban kurikulum akademik yang selama ini cenderung teknis. Pendidikan di China memang mulai berfokus pada pengembangan sisi humaniora untuk mencetak generasi yang lebih kritis dan empati.
Ke depannya, pemerintah China berencana untuk menambahkan daftar bacaan wajib lainnya yang dianggap memiliki pengaruh positif bagi pertumbuhan mental siswa. Fokusnya tetap pada karya-karya yang mampu menyuarakan suara-suara kemandirian dan martabat individu dalam masyarakat modern.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor











