Dilema Jet Fuel Nigeria: Berlimpah untuk Eropa, Langka di Negeri Sendiri

Dilema jet fuel Nigeria semakin meruncing: di saat negara ini menjadi pemasok utama bagi Eropa, maskapai domestik justru menghadapi kelangkaan parah. Pasokan jet fuel melimpah ruah berkat mega kilang Dangote, namun harga di pasar lokal tetap melambung tinggi, mencekik operasional penerbangan.
Dalam dua bulan terakhir, Nigeria telah melampaui Amerika Serikat sebagai pemasok jet fuel terbesar Eropa. Kilang Dangote di luar Lagos, dengan kapasitas 650.000 barel per hari, menjadi sumber penting bagi benua biru menyusul gangguan pasokan akibat perang Iran dan penutupan Selat Hormuz.
Kondisi ini membuat Eropa mampu mengatasi guncangan pasokan. Namun, di Nigeria, maskapai penerbangan lokal berjuang keras memenuhi kebutuhan harian mereka. Ikemesit Effiong, konsultan SBM Intelligence, menjelaskan bahwa pasar hilir Nigeria yang sepenuhnya deregulasi membuat Dangote menetapkan harga berdasarkan paritas internasional, bukan tarif domestik preferensial.
Baca Juga:
- Zambia Pasca-Pemilu: Demokrasi di Ujian Berat, Akses Keadilan Terhambat
- AS Perketat Sanksi Iran, MA Restui Pembatasan Pemilu Jarak Jauh
- Represi Berdarah Iran 2026: Korban Bersaksi 'Mereka Menembak Mati'
"Bahan bakar mengalir ke mana pun yang membayar paling mahal," kata Effiong. Saat ini, Eropa adalah pembeli yang paling menguntungkan. Kapasitas produksi saja tidak menjamin keterjangkauan di dalam negeri, meskipun kilang Dangote telah meningkatkan ketersediaan bahan bakar.
Maskapai domestik harus bersaing dengan pembeli internasional yang melakukan pemesanan dalam volume besar. Effiong menambahkan bahwa kedekatan fisik dengan kilang tidak memberikan keunggulan ekonomi bagi maskapai lokal. Mereka seolah-olah berjarak setengah dunia dari sumber pasokan.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor













