Dominasi Teknologi Global: China Salip AS di Era Ketidakpastian

Persaingan dominasi teknologi global antara China dan Amerika Serikat semakin memanas, memunculkan pertanyaan kritis tentang kepemimpinan dunia. Kini, China tampak melaju cepat, berpotensi menggantikan posisi AS sebagai kekuatan utama di berbagai sektor inovasi.
Menurut analisis Evan Osnos dari The New Yorker, Beijing menunjukkan keunggulan signifikan dalam produksi kendaraan listrik, baterai lithium-ion, sel surya, dan bahkan uji klinis farmasi. Sementara Amerika Serikat fokus pada konflik di Timur Tengah dan menerapkan kebijakan tarif, China justru memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat posisinya.
Gangguan geopolitik di Iran dan tarif yang diberlakukan mantan Presiden Donald Trump, secara paradoks, justru menguntungkan Beijing. China berhasil mengurangi ketergantungannya pada pasar Amerika, memperluas ekspor ke Amerika Latin, Afrika, dan Eropa. Mereka juga mengintegrasikan AI di pabrik untuk menekan biaya produksi, menjadikan produknya lebih kompetitif secara global.
Kebijakan AS seperti “Inisiatif China” yang menargetkan ilmuwan keturunan Tionghoa, telah menyebabkan ribuan ilmuwan meninggalkan negara itu. Hal ini berbanding terbalik dengan ambisi China yang menginvestasikan sumber daya besar dalam riset AI dan bioteknologi. Akibatnya, China kini menyamai AS dalam penemuan senyawa farmasi baru.
Pemimpin Tiongkok melihat Trump telah mempercepat “senja kekaisaran Amerika” dengan mengasingkan sekutu dan memangkas pendanaan ilmiah. Kolonel Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Zhou Bo menyoroti bagaimana AS tidak selalu membuat pilihan rasional dalam menggunakan kekuatannya. Teknologi kini menjadi medan pertempuran utama dalam hubungan internasional, kata Presiden Xi Jinping.
Contohnya, pabrik mobil Xiaomi yang sangat otomatis di Beijing mampu memproduksi satu mobil setiap 76 detik dengan minim campur tangan manusia. Kemajuan pesat ini memungkinkan China mengatasi kekurangan tenaga kerja, yang merupakan dampak jangka panjang kebijakan satu anak. Namun, ada juga kekhawatiran tentang pengawasan dan hilangnya pekerjaan manusia.
Implikasi politik dari dominasi teknologi ini sangat besar. China menggunakan teknologinya, seperti sistem pengawasan, sebagai instrumen diplomatik. Mereka menawarkan dukungan kepada negara-negara yang ingin tetap berkuasa, memperluas pengaruh Beijing di kancah global.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor











