
Narendra Modi kini harus berhadapan dengan gejolak demonstrasi Gen Z India yang mulai mengancam stabilitas koalisi pemerintahannya.
Perdana Menteri India tersebut tengah berupaya meyakinkan para mitra dalam National Democratic Alliance (NDA) bahwa gelombang protes kaum muda ini hanyalah manuver politik oposisi. Narasi ini dibangun untuk meredam kekhawatiran partai-partai pendukung yang mulai cemas terhadap penurunan popularitas pemerintah di mata pemilih muda setelah pemilihan umum lalu.
Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Modi menuding bahwa gerakan tersebut bukan murni aspirasi akar rumput, melainkan desain dari partai politik tradisional. Tuduhan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan sosial akibat skandal kebocoran ujian nasional serta kebijakan rekrutmen militer yang dianggap merugikan masa depan kaum muda. Para petinggi koalisi mencoba membingkai demonstrasi ini sebagai upaya perebutan kekuasaan yang tidak sah secara konstitusional oleh pihak oposisi.
Ketergantungan BJP pada dukungan partai regional menjadikan setiap riak protes sebagai ancaman serius bagi kelangsungan kabinet.
Berbeda dengan periode jabatan sebelumnya, Modi kini tidak lagi memiliki mayoritas absolut di parlemen sehingga suara sekutu menjadi sangat menentukan dalam pengambilan keputusan. Situasi ini memaksa pemerintah untuk lebih berhati-hati dalam menanggapi tuntutan demonstran yang didominasi oleh generasi Z yang mahir menggunakan media sosial.
Generasi muda India saat ini sangat vokal menyuarakan ketidakpuasan mereka melalui berbagai platform digital dan aksi turun ke jalan secara masif. Mereka menuntut perbaikan sistem ujian nasional serta jaminan lapangan kerja di sektor publik yang selama ini menjadi sandaran hidup jutaan keluarga di perdesaan. Isu-isu domestik ini secara perlahan mulai menggerus citra pemerintah yang selama ini dikenal sangat kuat dan dominan dalam kancah perpolitikan Asia Selatan.
"Kami melihat ada pola yang sengaja dibentuk oleh pihak luar untuk memicu kekacauan di kalangan mahasiswa," ujar salah satu pejabat senior kementerian dalam sebuah pertemuan tertutup.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa intelijen mereka menemukan indikasi keterlibatan aktor politik tertentu yang memanfaatkan keresahan sosial untuk kepentingan elektoral. Klaim semacam ini sering digunakan oleh pemerintah India untuk mendelegitimasi gerakan protes yang dianggap mengganggu ketertiban umum dan stabilitas ekonomi nasional.
Namun, para analis politik independen di New Delhi berpendapat bahwa kemarahan anak muda ini bersifat organik dan dipicu oleh rasa frustrasi yang menumpuk selama bertahun-tahun. Tingkat pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi dilaporkan mencapai angka yang cukup mengkhawatirkan, yakni di atas 15 persen menurut data terbaru. Fakta ini menjadi senjata tajam bagi aliansi oposisi untuk terus menekan pemerintahan Modi agar segera melakukan reformasi kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat kecil.
Tekanan politik ini terjadi saat India sedang berusaha memposisikan diri sebagai pusat manufaktur baru yang bersaing dengan China di kancah global.
Ketidakstabilan dalam negeri dapat memberikan sinyal negatif bagi investor asing yang sangat diharapkan untuk menanamkan modal besar di berbagai sektor industri strategis. Oleh karena itu, meredam gejolak pemuda menjadi prioritas utama agar target pertumbuhan ekonomi tahunan tidak terhambat oleh konflik internal yang berkepanjangan.
Beberapa partai dalam koalisi NDA dikabarkan mulai mendesak Modi untuk lebih banyak mengedepankan dialog daripada menggunakan pendekatan keamanan yang represif. Mereka khawatir jika penanganan keras terus dilakukan, basis suara mereka di daerah akan beralih ke pihak lawan pada pemilihan lokal yang dijadwalkan tahun depan. Ketegangan internal ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas politik India di bawah sistem pemerintahan koalisi yang baru terbentuk kembali setelah satu dekade dominasi penuh satu partai.
Pemerintah pusat mulai meluncurkan program pelatihan kerja intensif sebagai upaya nyata untuk menjawab kegelisahan para pemuda yang kesulitan mencari nafkah.
Anggaran sebesar 100 miliar rupee (sekitar Rp18,6 triliun) dialokasikan untuk sektor pendidikan dan pengembangan keterampilan teknis bagi lulusan baru di seluruh negara bagian. Langkah ini diharapkan mampu meredakan tensi politik sekaligus memberikan harapan baru bagi jutaan pencari kerja yang selama ini merasa terabaikan oleh kebijakan pembangunan pemerintah.
Meskipun demikian, efektivitas program tersebut masih diragukan oleh banyak pihak karena birokrasi yang dianggap terlalu lamban dalam mengeksekusi dana di lapangan. Banyak pemuda merasa bahwa solusi yang ditawarkan pemerintah hanyalah langkah jangka pendek untuk menyelamatkan muka koalisi di hadapan publik dan parlemen. Perdebatan ini diperkirakan terus berlanjut seiring dengan sikap pemilih muda yang semakin kritis terhadap setiap keputusan politik yang diambil oleh pemerintah pusat di New Delhi.
Tantangan utama Modi sekarang adalah menjaga keseimbangan antara tuntutan sekutu politik dan aspirasi generasi muda yang terus menuntut perubahan nyata.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor