Kisah Pilu Warga Haiti yang Dideportasi dari AS ke Tengah Konflik Gang Bersenjata

Ratusan warga Haiti yang dideportasi dari Amerika Serikat kini menghadapi kenyataan pahit tanpa perlindungan dan harta benda.
Mereka diterbangkan kembali ke tanah airnya dalam beberapa pekan terakhir dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Banyak di antara mereka mengaku tidak memiliki uang sepeser pun saat mendarat di Port-au-Prince.
Situasi di Haiti sedang berada dalam kondisi darurat keamanan yang cukup ekstrem. Sebagian besar wilayah ibu kota saat ini dikuasai oleh kelompok gang bersenjata yang sering melakukan penculikan dan kekerasan.
Para deportan tersebut mengaku terlantar tanpa tempat tinggal yang aman setelah dipulangkan oleh otoritas imigrasi Amerika Serikat. Mereka merasa terjebak di tengah pusaran konflik yang tidak kunjung usai di negara asal mereka tersebut.
Pemerintah Haiti sebenarnya menghadapi kendala besar dalam menyambut warganya yang kembali dalam jumlah masif. Layanan sosial di sana sudah lumpuh akibat krisis politik berkepanjangan yang melanda sejak beberapa tahun terakhir.
Sebagian besar pendatang baru ini terpaksa tidur di jalanan atau menumpang di rumah kerabat yang juga hidup dalam kekurangan. Mereka kehilangan akses terhadap pekerjaan dan mata pencaharian yang sempat mereka bangun di luar negeri.
Beberapa warga yang berhasil diwawancarai menyatakan bahwa mereka takut untuk keluar rumah. Kehadiran kelompok bersenjata di setiap sudut kota membuat ruang gerak warga sipil sangat terbatas dan penuh ancaman nyawa.
Amerika Serikat sendiri sebelumnya terus melakukan kebijakan pengusiran bagi imigran gelap melalui jalur udara. Kebijakan ini menuai kritik tajam dari berbagai organisasi kemanusiaan internasional yang peduli terhadap keselamatan warga Haiti.
Krisis kemanusiaan di Haiti memang sedang mencapai titik terendah dalam dua dekade terakhir. Tingkat inflasi yang melonjak tinggi hingga mencapai 40 persen membuat harga kebutuhan pokok di sana tidak lagi terjangkau bagi penduduk lokal.
Ketidakpastian ekonomi ini diperparah dengan minimnya infrastruktur kesehatan yang memadai. Rumah sakit di berbagai distrik sering kali tutup karena kekurangan staf dan peralatan medis akibat krisis yang melanda.
Bantuan dari pihak luar pun sering terhambat oleh aksi blokade yang dilakukan kelompok kriminal di pelabuhan dan jalan utama. Kondisi ini membuat distribusi pasokan makanan dan air bersih menjadi sangat sulit dilakukan oleh badan amal dunia.
Kini, mereka yang dideportasi hanya bisa berharap adanya intervensi internasional yang lebih nyata. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar pemulangan paksa ke wilayah yang sedang mengalami kehancuran sistem keamanan secara total.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor













