Pihak pembela berhasil mematahkan kredibilitas saksi kunci, Melvin Theuma, yang merupakan perantara pembunuhan tersebut. Pengacara Fenech menyoroti kontradiksi dalam pernyataan Theuma sebelumnya, sehingga juri merasa tidak ada bukti yang cukup untuk memvonis terdakwa melampaui keraguan yang masuk akal.
Kegagalan proses hukum ini kembali menyoroti rapuhnya sistem peradilan di Malta yang dinilai lambat dan penuh dengan hambatan birokrasi. Data dari Daphne Caruana Galizia Foundation mencatat bahwa hampir separuh kasus pembunuhan yang dibawa ke pengadilan antara 2010 hingga 2020 belum terselesaikan hingga pertengahan 2025.
Hingga saat ini, pemerintah Malta masih menghadapi tekanan internasional dari Komisi Eropa terkait penegakan supremasi hukum. Kritik utama yang muncul adalah belum adanya reformasi media yang komprehensif untuk melindungi jurnalis dari tekanan politik maupun ekonomi yang masif.
Hakim Edwina Grima kini telah memerintahkan agar seluruh bukti dalam persidangan diserahkan kepada kepala kepolisian untuk ditelaah kembali. Lembaga Jurnalis Malta (IGM) mendesak otoritas terkait untuk terus melakukan penyelidikan terhadap berbagai pihak, termasuk mantan pejabat tinggi yang namanya sempat terseret dalam proses persidangan.
Publik di Malta tampaknya belum bisa menerima berakhirnya kasus ini begitu saja. Kehadiran massa di luar gedung pengadilan menunjukkan bahwa masyarakat masih menuntut kebenaran sejati atas hilangnya nyawa sang jurnalis yang berani mengungkap kebobrokan sistem negara.