Krisis Pendidikan, Aksi Protes Pelajar Perancis Masuki Pekan Ketiga

Aksi protes pelajar Perancis terus meluas ke berbagai wilayah setelah memasuki pekan ketiga akibat kekecewaan mendalam terhadap kondisi sekolah yang dinilai tidak layak.
Gerakan protes pelajar Perancis ini dipicu oleh kerusakan fasilitas fisik sekolah yang parah dan ketiadaan guru pengajar di ruang kelas secara terus-menerus. Pemerintah setempat kini berkejaran dengan waktu untuk mencari jalan keluar terbaik guna meredam aksi yang mulai mengganggu stabilitas kegiatan belajar mengajar nasional tersebut.
Di distrik Seine-Saint-Denis yang terletak di pinggiran Paris, para siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar dalam ruangan kelas yang dingin tanpa sistem pemanas yang berfungsi dengan baik. Kondisi fisik bangunan sekolah yang sudah tua dan mengalami kerusakan di berbagai sudut memperparah penderitaan para siswa sehari-hari. Masalah ini semakin runyam karena ketiadaan guru pengganti saat staf pengajar utama berhalangan hadir dalam waktu yang lama.
"Kami menuntut lingkungan belajar yang manusiawi karena sekolah kami terasa seperti gedung tua yang diabaikan," kata seorang siswa dalam aksi unjuk rasa di pusat kota Paris.
Gerakan penolakan ini tidak lagi didominasi oleh kalangan remaja, melainkan telah menarik simpati dan dukungan aktif dari para orang tua murid serta serikat guru nasional. Mereka bergabung dalam barisan demonstrasi untuk menyuarakan desakan perubahan kebijakan anggaran pendidikan yang selama ini dinilai sangat minim.
Kementerian Pendidikan Perancis berupaya menenangkan situasi dengan menjanjikan bantuan dana perbaikan darurat untuk sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan paling parah. Kendati demikian, janji tersebut dinilai tidak menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya terkait krisis ketenagakerjaan di sektor pendidikan. Para demonstran menuntut solusi konkret berupa pengangkatan guru baru secara permanen guna mengatasi kekosongan kelas yang kronis.
Berdasarkan data resmi, sistem pendidikan Perancis saat ini masih kekurangan sekitar 3.000 guru kelas akibat rendahnya minat generasi muda untuk berkarier sebagai pendidik profesional.
Gaji yang relatif rendah dan beban kerja yang berat dituding sebagai penyebab utama keengganan para lulusan universitas untuk mendaftar menjadi guru sekolah negeri. Akibatnya, guru-guru yang ada harus menanggung beban kerja ganda untuk mengisi kekosongan, yang berujung pada tingginya angka pengunduran diri dan cuti sakit karena kelelahan fisik maupun mental.
Krisis sosial di sektor pendidikan ini memicu tekanan politik baru bagi pemerintahan Presiden Emmanuel Macron di tengah upaya pemulihan ekonomi nasional. Kubu oposisi memanfaatkan momentum ini untuk mengkritik keras prioritas belanja negara yang dianggap mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat di bidang pendidikan. Kebijakan pemotongan anggaran pelayanan publik yang diterapkan dalam beberapa tahun terakhir dituding sebagai pemicu utama rapuhnya sistem sekolah saat ini.
Sejumlah demonstrasi susulan berskala besar telah dijadwalkan akan kembali digelar di kota-kota utama seperti Lyon, Marseille, dan Toulouse pada pertengahan pekan depan.
Aparat kepolisian setempat mulai memperketat penjagaan di sekitar kantor-kantor dinas pendidikan daerah guna mencegah terjadinya bentrokan fisik selama aksi unjuk rasa berlangsung. Sementara itu, serikat buruh menegaskan bahwa mereka tidak akan menghentikan aksi mogok kerja sampai ada komitmen tertulis yang konkret dari pihak kementerian.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor












