Mantan Kanselir Jerman Gerhard Schröder Kini Duduk di Dewan Direksi Ritel Rusia

Mantan Kanselir Jerman Gerhard Schröder terlihat mengunjungi salah satu gerai supermarket Hyperglobus di pinggiran Moskow, Rusia, pada Rabu (17/7).
Kunjungan ini dilakukan hanya berselang beberapa hari setelah pihak perusahaan mengumumkan penunjukan politisi senior tersebut sebagai anggota dewan pengawas mereka. Hyperglobus sendiri merupakan jaringan ritel yang memisahkan diri dari perusahaan induk asal Jerman, Globus Holding, pada tahun lalu.
Rekaman televisi Rusia menampilkan para karyawan menyambut hangat sang mantan pemimpin Jerman beserta istrinya, So-yeon Schröder-Kim. Mereka memberikan tepuk tangan meriah saat Schröder menyapa para pekerja di sana.
Schröder menyatakan kegembiraannya bisa hadir langsung untuk melihat hasil kerja rekan-rekan barunya di supermarket tersebut. Pernyataan ini disiarkan oleh saluran televisi RBC segera setelah kunjungannya berakhir.
Kedekatan Schröder dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terus menjadi sorotan tajam di Jerman, terutama sejak invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022. Hubungan ini memicu perdebatan panjang karena posisi Schröder yang dahulu memimpin pemerintahan Jerman.
Sebelumnya, ia pernah memegang posisi strategis di berbagai perusahaan energi Rusia seperti Rosneft dan proyek pipa gas Nord Stream yang dikuasai Gazprom. Keterlibatan ini membuat banyak pihak di Jerman merasa gerah dan mempertanyakan loyalitas politiknya.
Pada 2024, pemerintah Jerman secara resmi mencabut fasilitas kantor dan staf yang biasanya diberikan kepada mantan kanselir. Keputusan ini diambil karena Schröder dinilai tidak lagi menjalankan kewajiban apa pun yang berkaitan dengan jabatan pemerintahannya dahulu.
Meskipun menuai kritik keras, upaya Partai Sosial Demokrat untuk mengeluarkan Schröder dari keanggotaan partai selalu menemui jalan buntu. Hambatan hukum yang tinggi membuat status keanggotaannya sejak 1963 tetap bertahan hingga hari ini.
Di sisi lain, Schröder secara terbuka terus menyuarakan pentingnya menjaga hubungan dagang antara Rusia dan negara-negara Barat di tengah sanksi ekonomi. Baginya, komunikasi tetap harus terjalin meskipun dalam masa krisis.
Berbagai pihak, termasuk mendiang pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny, pernah melontarkan kritik pedas terkait pilihan karier Schröder pascapolitik. Ia bahkan sempat menyebut sang mantan kanselir sebagai pesuruh bagi kepentingan Putin.
Vladimir Putin beberapa kali melontarkan ide agar Schröder menjadi mediator perdamaian antara Rusia, Ukraina, dan Eropa. Namun, banyak pengamat internasional meragukan objektivitasnya karena kedekatan hubungan personal yang ia miliki dengan Kremlin.
Posisi Schröder saat ini menjadi cerminan betapa rumitnya hubungan diplomatik dan bisnis yang melintasi batas negara di tengah ketegangan geopolitik global. Dunia internasional tetap memantau langkahnya dengan penuh rasa ingin tahu dan kecurigaan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor








:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5269743/original/092797600_1751358995-Gianni_Infantino.jpg)


