Penggunaan AI Rekonstruksi Wajah Greta Garbo dalam Iklan SKF Group Tuai Polemik

Perusahaan manufaktur global asal Swedia, SKF Group, baru saja memicu perdebatan luas setelah menghadirkan kembali sosok aktris legendaris Greta Garbo melalui teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Iklan tersebut menampilkan versi digital dari bintang film berdarah Swedia-Amerika yang telah wafat pada 1990 tersebut untuk mempromosikan produk mereka. Penggunaan teknologi deepfake ini memperlihatkan sang aktris seolah hidup kembali di layar kaca.
Tanggapan publik terhadap eksekusi visual ini cukup beragam dan cenderung skeptis. Banyak penonton merasa bahwa replika digital tersebut gagal menampilkan kemiripan yang natural dengan sosok aslinya.
Kritik yang muncul menyoroti kejanggalan dalam gerakan wajah dan ekspresi yang ditampilkan oleh karakter hasil rekayasa komputer itu. Kualitas visual yang dihadirkan dinilai kurang meyakinkan jika dibandingkan dengan citra asli Greta Garbo yang dikenal memiliki pesona klasik tak tertandingi di industri film Hollywood era keemasan.
Bagi generasi masa kini, Greta Garbo dikenal sebagai ikon mode dan aktris papan atas yang sangat selektif dalam memilih peran semasa hidupnya. Ia adalah bintang besar yang sangat menjaga privasi, sehingga penggunaan wajahnya untuk kepentingan komersial tanpa kehadiran fisiknya menjadi isu etis yang cukup sensitif.
Di sisi lain, langkah SKF Group ini mencerminkan tren penggunaan teknologi AI yang makin masif di dunia pemasaran global. Perusahaan kini mulai melirik aktor atau pesohor masa lampau untuk memberikan kesan nostalgia pada citra merek mereka.
Namun, fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai hak privasi pasca-kematian dan batasan etika dalam manipulasi identitas seseorang. Ketika teknologi memungkinkan kita menghidupkan kembali mereka yang telah tiada, batas antara penghormatan dan eksploitasi menjadi semakin tipis.
Para pengamat industri periklanan mencatat bahwa kegagalan teknis dalam iklan ini dapat berdampak pada kredibilitas perusahaan. Alih-alih mendapatkan citra inovatif, penggunaan AI yang kurang halus justru membuat publik merasa tidak nyaman.
Kasus ini menjadi peringatan bagi pelaku industri manufaktur maupun kreatif agar lebih berhati-hati dalam menerapkan teknologi serupa. Menghidupkan legenda melalui digitalisasi memerlukan akurasi tinggi agar tidak merusak warisan sejarah yang ditinggalkan tokoh tersebut.
Hingga saat ini, pihak SKF Group belum memberikan pernyataan resmi mengenai kritik yang membanjiri media sosial terkait iklan tersebut. Penggunaan citra digital tokoh publik yang sudah meninggal memang selalu menjadi perdebatan panjang di ranah hukum internasional terkait hak cipta dan hak publikasi.
Tantangan terbesar bagi para kreator di masa depan adalah menyelaraskan kemajuan teknologi dengan standar etika yang berlaku. Tanpa transparansi dan kualitas yang mumpuni, teknologi tercanggih sekalipun berisiko menjadi bumerang bagi citra perusahaan itu sendiri.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor








