Peringatan Penyintas Bom Atom Hiroshima Soal Arah Militerisme Jepang

Jepang memperingati 81 tahun tragedi bom atom di Hiroshima pada Kamis, di tengah kekhawatiran para penyintas mengenai kebijakan militer negara tersebut.
Masako Wada, asisten sekretaris jenderal Nihon Hidankyo, organisasi penyintas bom atom, memperingatkan bahwa langkah pemerintah saat ini merusak kepercayaan komunitas internasional. Jepang yang dulunya dikenal sebagai negara pasifis kini justru meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan.
Masashi Ieshima, pria berusia 84 tahun yang selamat dari ledakan di Hiroshima saat berusia tiga tahun, menilai penguatan militer ini memicu kembali perlombaan senjata. Baginya, kebijakan yang melonggarkan ekspor senjata dan perluasan peran militer menyerupai jalan menuju perang dunia di masa lalu.
Ieshima yang pernah menjalani operasi kanker tiroid akibat paparan radiasi, menegaskan bahwa jika Jepang terus menempuh jalur ini, risiko perang nuklir akan kembali membayangi dunia. Ia mengaku marah melihat alasan konflik di Taiwan digunakan sebagai pembenaran untuk memiliterisasi negara.
Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi memang sedang gencar memperkuat kapabilitas pertahanan dengan alasan ancaman dari China, Korea Utara, dan Rusia. Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi bahkan menyebut penguatan militer harus dilakukan dengan urgensi yang lebih tinggi daripada sebelumnya.
Di sisi lain, publik mulai menyuarakan penolakan melalui aksi protes kreatif di depan gedung parlemen Tokyo. Kelompok warga seperti We Want Our Future mengemas demonstrasi dengan gaya modern untuk menarik partisipasi generasi muda.
Koichi Nakano, pengamat politik dari Sophia University, menilai narasi ancaman yang dibangun pemerintah tidak sepenuhnya meyakinkan publik. Ia mendesak Jepang untuk berhenti memposisikan China sebagai musuh dan kembali mengedepankan dialog demi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor







