Kadang Niat Baik Untuk Berbohong Itu Bukan Solusi, Malah Bikin Luka Jadi Lebih Dalam Nanti

Pernah nggak sih, kamu di posisi harus bilang sesuatu yang pahit banget, tapi kamu mikir, 'Ah, udahlah, biar dia nggak sakit sekarang?'
Akhirnya, kamu pilih jalan yang menurutmu lebih 'aman', menutupi sebagian, atau bahkan memutarbalikkan fakta.
Wajar kok, naluri kita emang pengen melindungi orang yang kita sayang. Nggak mau lihat dia sedih, apalagi karena kita. Itu manusiawi banget, jujur.
Kita semua pernah ada di titik itu, antara mau jujur tapi takut nyakitin, atau bohong kecil demi 'kebaikan'. Itu dilema yang berat, aku tahu.
Tapi, Kenapa Malah Makin Rumit?
Kamu kira dengan menutupi kebenaran, semuanya bakal baik-baik aja. Mungkin dia nggak tahu sekarang, dia senyum, dan kamu lega. Sementara.
Padahal, kamu cuma tunda rasa sakitnya, tahu nggak?
Itu kayak luka yang ditutup plester doang tanpa diobati. Kelihatannya sembuh di luar, tapi dalamnya masih bernanah, bahkan bisa makin parah sampai akhirnya harus diamputasi karena kamu nggak berani ngelihat darah sedikit pun.
Kepercayaan Itu Barang Mahal, Lho
Yang sering kita lupa, sebuah kebohongan itu bukan cuma soal apa yang kita sembunyikan. Lebih dari itu, dia ngerusak fondasi paling dasar dari hubungan: kepercayaan.
Begitu dia tahu kamu bohong, entah kapan dan dari siapa, rasa kecewanya bukan cuma karena kebohongan itu sendiri. Tapi juga karena kamu meremehkan dia, seolah dia nggak cukup kuat buat hadapi kebenaran, seolah dia nggak pantas tahu apa yang terjadi. Sakit banget digituin, kan?
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor














