Langsung ke konten
beritana

Meta Kejar Ambisi AI, Dirikan Pusat Data dalam Tenda Raksasa

Foto Beritana UpdateBeritana Update4 menit bacaTech
Meta steals a tactic from Tesla and builds data centers in tents
Image Credits:Matthias Balk/picture alliance / Getty Images

Di tengah hiruk pikuk perlombaan kecerdasan buatan (AI) yang makin memanas, raksasa teknologi Meta Platforms Inc. mengambil langkah tak biasa yang cukup mengejutkan. Alih-alih membangun fasilitas permanen yang memakan waktu dan biaya, Meta kini mendirikan

Pusat data AI mereka di dalam tenda-tenda raksasa. Strategi inovatif ini, yang bertujuan memangkas waktu konstruksi dan biaya operasional, disebut-sebut terinspirasi dari taktik efisiensi yang pernah diterapkan oleh Tesla dan perusahaan AI pesaing, xAI.

Langkah revolusioner ini terungkap melalui laporan Michael Thomas, pendiri Cleanview, sebuah lembaga yang melacak perkembangan pusat data. Menurut Thomas, Meta telah membangun enam struktur tenda  atau yang mereka sebut sebagai “struktur pengerahan cepat” (rapid deployment structures)  di luar New Albany, Ohio. Pembangunan ini menjadi sinyal jelas betapa seriusnya Meta dalam mengejar dominasi di era AI yang serba cepat ini.

Temuan Michael Thomas sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Tahun lalu, CEO Meta, Mark Zuckerberg, pernah membahas rencananya dengan media The Information tentang penggunaan tenda-tenda tahan cuaca untuk menampung pusat data berkapasitas multi-gigawatt milik perusahaannya. Namun, gambaran satelit dan tinjauan izin lokal yang dibagikan oleh Thomas di akun media sosial X-nya, kini menunjukkan betapa cepatnya laju konstruksi dan besarnya skala proyek ini.

Berdasarkan izin kota yang ditinjau oleh Thomas, Meta mulai membangun lima tenda berukuran masing-masing lebih dari 11.600 meter persegi antara bulan April dan Juni tahun ini. Gambar satelit yang ia bagikan menunjukkan bahwa struktur-struktur tenda tersebut kini sudah berdiri kokoh. Kecepatan pengerjaan ini menjadi kunci, mengingat kebutuhan akan infrastruktur komputasi yang masif untuk mendukung pengembangan model AI canggih.

Penggunaan tenda raksasa sebagai fasilitas produksi ini mengingatkan banyak pihak pada langkah serupa yang pernah dilakukan Tesla. Kala itu, saat berkejaran dengan waktu untuk meluncurkan Model 3, Tesla membangun tenda-tenda di area parkir pabrik Fremont, California miliknya. Tenda-tenda tersebut berfungsi sebagai jalur perakitan tambahan untuk mempercepat produksi kendaraan listriknya. Meta tampaknya mengadopsi filosofi serupa: jika ingin cepat, jangan terpaku pada konstruksi konvensional.

Selain inspirasi dari Tesla, situs pusat data Meta di Ohio ini juga ditenagai oleh 200 megawatt turbin gas modular yang terpasang di dekatnya. Taktik penggunaan turbin gas modular ini merupakan metode populer yang sebelumnya banyak dipakai oleh xAI, perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk, yang juga merupakan pendiri Tesla. Ini menunjukkan bahwa Meta tidak hanya belajar dari satu sumber, tetapi mengambil strategi terbaik dari para pemain kunci di industri teknologi.

Di dalam tenda-tenda yang tampak sederhana dari luar ini, miliaran dolar chip AI akan bekerja keras memproses data dan menjalankan algoritma kompleks. Ini adalah jantung dari ambisi Meta untuk mengembangkan model-model AI yang lebih cerdas dan responsif. Keberadaan chip-chip tersebut dalam fasilitas tenda ini menegaskan bahwa fungsionalitas dan kecepatan lebih diutamakan ketimbang kemegahan bangunan permanen.

Pembangunan pusat data kilat ini terjadi di tengah tantangan yang dihadapi Meta dalam merilis model-model AI-nya kepada para pengembang. Sebuah laporan terbaru dari The Wall Street Journal menemukan bahwa model terbaru Meta, Muse Spark, sebenarnya sudah selesai. Namun, Antarmuka Pemrograman Aplikasi (API) yang sangat diandalkan oleh para pengembang untuk mengakses model tersebut, berulang kali mengalami penundaan. Hal ini tentu saja menghambat kemajuan Meta di sektor AI, dan strategi tenda menjadi upaya untuk mengejar ketertinggalan.

Meta sendiri telah menyatakan niatnya untuk menginvestasikan hingga 145 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.320 triliun (dengan kurs perkiraan Rp 16.000/USD) untuk pusat data dan belanja modal lainnya. Angka fantastis ini tidak disukai oleh Wall Street, yang tercermin dari penurunan saham Meta sebesar 5% tahun ini. Dengan demikian, menempatkan chip AI di dalam tenda merupakan salah satu cara Meta untuk memangkas anggaran besar tersebut, sekaligus mempercepat implementasi infrastruktur vital untuk AI.

Langkah Meta ini menunjukkan betapa krusialnya kecepatan dan efisiensi dalam perlombaan AI global. Dengan meniru taktik 'serba cepat' dari pemain besar lain seperti Tesla dan xAI, Meta berharap bisa membangun fondasi AI-nya tanpa terbebani oleh proses konstruksi yang lamban dan biaya yang membengkak, demi mencapai tujuan ambisius mereka di masa depan teknologi.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update