Ketika Kamu Belajar Berhenti Berharap, Jangan Lupa Siapa Guru Terbaikmu

Rasanya kayak dunia cuma berputar di sekitar notifikasi ponsel.
Setiap getaran kecil, setiap kedipan layar, harapan itu langsung melambung tinggi.
Kita semua pernah ada di titik itu, kan? Nungguin balasan, nungguin kabar, nungguin sepotong perhatian dari seseorang yang rasanya kok... susah banget ngasihnya. Kamu nggak sendirian merasa bego sendiri karena terus berharap, terus menanti.
Kamu Nggak Salah, Kok
Dulu, buatku, kamu itu segalanya.
Aku inget banget, pernah rela berdiri di samping colokan cuma buat bisa terus chatting, padahal baterai udah sekarat dan mata udah lima watt. Nggak peduli pegel, nggak peduli waktu.
Semua janji itu kayak candu, meskipun seringnya cuma angin lalu. Aku selalu mencari pembenaran, "Ah, mungkin dia sibuk," atau "Pasti nanti juga bales."
Kamu sering banget bikin aku nunggu.
Sampai hafal banget pola kamu yang, ya, memang nggak akan pernah bales cepat. Kadang, malah nggak bales sama sekali, bikin dada sesak.
Aku rela nahan ngantuk.
Nungguin balasan chat yang nggak datang-datang, sampai akhirnya ketiduran dengan ponsel di tangan. Paginya bangun, langsung cek lagi, dan lagi-lagi... nihil, kan?
Ini Bukan Soal Ego
Pernah nggak sih, kamu merasa bego banget?
Terus-terusan berharap, padahal otak udah teriak kalau ini nggak mungkin terjadi, kalau ini cuma kamu sendiri yang sibuk merangkai ilusi yang nggak ada habisnya.
Lama-lama, energi buat nunggu itu habis.
Pelan-pelan, kamu mulai sadar kalau kebiasaan mereka yang cuek, yang nggak peduli, itu juga bisa menular. Entah sengaja atau tidak, kamu jadi ikut.
Dan tiba-tiba, kamu mulai ikut nggak ada kabar.
Bukan karena dendam, sumpah. Tapi karena kamu mulai belajar, dari dia sendiri, bagaimana rasanya nggak diprioritaskan, bagaimana rasanya jadi pilihan ke sekian.
Belajar Melepaskan Diri
Rasanya aneh, ya.
Kita belajar tentang jarak, tentang ketiadaan, justru dari orang yang paling kita inginkan kehadirannya. Ironis, memang.
Ini bukan soal siapa yang menang atau kalah, bukan soal membalas dendam dengan cara yang sama.
Ini soal memprioritaskan diri sendiri, lho. Soal menyadari kalau energi dan waktu kamu terlalu berharga untuk dihabiskan buat menunggu sesuatu yang nggak pernah benar-benar datang.
Mungkin awalnya terasa pahit.
Kayak kehilangan sesuatu yang padahal dari dulu juga nggak pernah kamu miliki sepenuhnya. Tapi, percaya deh, ini adalah awal dari kedamaian yang kamu cari.
Saatnya Kamu Menjadi Rumah Sendiri
Jadi, kalau suatu saat nanti kamu berhenti ngejar, berhenti ngasih kabar, dan memilih untuk nggak lagi ada, itu bukan karena kamu jahat, bukan karena kamu benci.
Itu karena kamu sudah belajar.
Belajar dari guru terbaikmu, tentang bagaimana melindungi hati dari hal-hal yang nggak layak ada di dalamnya.
Dan itu, jauh lebih penting daripada sekadar menunggu balasan chat. Itu adalah cinta pada diri sendiri, yang akhirnya kamu temukan.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor











