5 Langkah Strategis Pencegahan Kanker Serviks yang Wajib Diketahui Wanita

Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan salah satu ancaman kesehatan paling serius bagi kaum hawa di seluruh dunia. Penyakit ini sebenarnya dapat dicegah melalui serangkaian tindakan medis dan perubahan gaya hidup yang konsisten.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan terdapat sekitar 570.000 kasus baru kanker serviks pada tahun 2018. Data global menunjukkan kanker ini menjangkiti sekitar 6,6 persen dari total populasi wanita, dengan rentang usia penderita paling umum berada pada 30 hingga 45 tahun.
Langkah pertama dalam pencegahan adalah pemeriksaan Pap smear secara berkala. Prosedur ini melibatkan pengambilan sampel jaringan pada serviks oleh dokter kandungan untuk dianalisis di bawah mikroskop guna mendeteksi keberadaan sel prakanker atau sel kanker.
Pemeriksaan ini sangat dianjurkan bagi wanita berusia 21 hingga 65 tahun yang aktif secara seksual. Idealnya, Pap smear dilakukan setiap tiga tahun sekali guna memastikan kesehatan organ reproduksi tetap terjaga.
Langkah kedua adalah melakukan tes HPV untuk mendeteksi virus human papilomavirus yang menjadi penyebab utama penyakit ini. Tes ini biasanya dilakukan saat hasil Pap smear menunjukkan adanya sel abnormal pada leher rahim.
Ketiga, pemberian vaksin HPV menjadi perlindungan yang krusial untuk mencegah infeksi tipe HPV 16 dan HPV 18. Meskipun sering dianggap hanya untuk wanita dewasa, vaksin ini sebenarnya sudah bisa diberikan sejak anak perempuan menginjak usia 11 atau 12 tahun.
Keempat, menghindari kebiasaan merokok adalah kunci untuk menjaga kesehatan sistem kekebalan tubuh. Perokok memiliki risiko lebih sulit menyingkirkan infeksi virus HPV dari dalam tubuh sehingga peluang munculnya sel kanker menjadi lebih tinggi.
Langkah kelima adalah melakukan praktik hubungan seksual yang aman dengan penggunaan kondom. Hal ini dilakukan karena penularan virus HPV mayoritas terjadi melalui kontak seksual, sehingga upaya preventif dari kedua belah pihak sangat diperlukan.
Selain langkah-langkah di atas, memahami faktor risiko seperti riwayat penyakit menular seksual sangatlah membantu. Infeksi seperti klamidia, gonorea, atau sifilis dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengidap kanker serviks jika tidak segera ditangani.
Peradangan pada serviks atau servisitis yang dibiarkan terus menerus juga bisa memicu komplikasi serius. Faktor gaya hidup seperti berganti pasangan seksual atau memulai aktivitas seksual pada usia dini juga memiliki korelasi kuat dengan peningkatan risiko penyakit ini.
WHO mencatat bahwa angka kematian akibat kanker serviks mencapai 90 persen di wilayah dengan kondisi sosial ekonomi yang rendah. Kesenjangan akses layanan kesehatan ini memperlihatkan betapa pentingnya edukasi mengenai deteksi dini dan pola hidup sehat bagi masyarakat luas.
Dengan mengenali penyebab serta faktor risiko yang ada, wanita diharapkan dapat lebih proaktif dalam melakukan langkah pencegahan. Konsultasi rutin dengan tenaga medis serta menjaga kebersihan organ intim adalah investasi jangka panjang untuk kualitas hidup yang lebih baik.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor











