Analisis Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda

Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada Jumat malam, 4 September 2026, sekitar pukul 23.07 WIB hingga Sabtu dini hari.
Peristiwa vulkanik ini mencatatkan sejarah panjang aktivitas kegunungapian yang muncul pasca kehancuran Gunung Krakatau pada 1883 silam.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat kemunculan gunung ini berawal dari aktivitas di bawah permukaan laut yang terdeteksi pada akhir 1927. Tumpukan material vulkanik kemudian membentuk tubuh gunung yang muncul ke permukaan pada tahun 1929, menciptakan karakteristik unik sebagai gunung api aktif tipe A yang terus mengalami fase konstruksi.
Peningkatan aktivitas gunung tersebut terpantau jauh hari sebelum erupsi terjadi melalui deteksi satelit. Para ahli menemukan anomali panas serta emisi gas SO2 sejak Juni 2026, yang kemudian memicu peningkatan status dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 2 Juli 2026.
Mekanisme gunung api bekerja dengan mengalirkan magma dari perut bumi melalui rekahan menuju permukaan yang kemudian berubah menjadi lava. Proses ini secara bertahap menambah ketinggian gunung melalui tumpukan material erupsi yang membeku di sekitar kawah.
Kendati demikian, fenomena tersebut tidak selalu berujung pada pertambahan massa atau ketinggian gunung secara permanen. Pengalaman tahun 2018 membuktikan bahwa ketidakstabilan struktur gunung dapat menyebabkan longsoran masif ke laut yang memicu tsunami non-tektonik di kawasan pesisir Banten serta Lampung.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379833/original/081951200_1792648229-cunha.jpg)












:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379442/original/072640700_1792623284-mu.jpg)