Analisis Mengapa Ilhan Omar Menjadi Sasaran Serangan Personal Donald Trump

Ilhan Omar, anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat, kerap menjadi target retorika keras dan serangan verbal yang dilontarkan oleh Donald Trump. Mantan presiden AS tersebut tidak jarang menggunakan istilah kasar, bahkan menyebut Omar dan koleganya sebagai sampah dalam berbagai kesempatan kampanye di depan para pendukungnya.
Perseteruan ini memicu pertanyaan mengenai alasan di balik kebencian yang mendalam tersebut. Sebagai sosok politisi progresif yang vokal, Omar dianggap mewakili nilai-nilai yang bertolak belakang dengan pandangan politik Trump yang konservatif.
Lahir di Mogadishu, Somalia, pada 44 tahun lalu, Omar menempuh perjalanan hidup yang panjang sebelum melenggang ke parlemen AS. Ia menghabiskan masa kecilnya di kamp pengungsian Kenya setelah melarikan diri dari perang saudara di negaranya sebelum akhirnya berimigrasi ke Amerika pada 1995. Ia kemudian resmi menjadi warga negara AS pada 2000 dan mulai meniti karier sebagai politisi sayap kiri.
Reputasi Omar sebagai sosok yang mendobrak tradisi semakin kuat saat ia menjadi salah satu perempuan Muslim pertama yang terpilih masuk ke dalam Kongres pada 2019. Kehadirannya bahkan memaksa DPR AS mengubah aturan berusia 180 tahun yang melarang penggunaan penutup kepala di dalam ruang sidang untuk mengakomodasi hijab yang ia kenakan.
Secara ideologis, Omar merupakan pendukung agenda progresif seperti layanan kesehatan universal, perlindungan iklim, serta penghapusan utang mahasiswa. Ia tidak ragu melontarkan kritik pedas terhadap Trump dengan menuding sang presiden melakukan korupsi dan sengaja memicu kebencian terhadap kelompok minoritas serta imigran di Amerika.
Posisi politiknya sering kali menempatkan Omar dalam posisi sulit, bahkan di dalam internal partainya sendiri. Salah satu pemicunya adalah sikap kerasnya terhadap kebijakan Israel yang berujung pada tuduhan antisemitisme, terutama setelah ia mendukung gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi atau BDS yang menuntut pertanggungjawaban Israel atas tindakan terhadap warga Palestina.
Ketegangan mencapai titik puncak pada awal 2023 ketika Partai Republik mencopot posisinya dari Komite Hubungan Luar Negeri DPR. Langkah tersebut diambil sebagai konsekuensi atas serangkaian cuitan kontroversial di masa lalu yang dianggap menyetarakan tindakan AS dan Israel dengan kelompok Taliban maupun Hamas.
Tidak berhenti di sana, serangan terhadap kehidupan pribadi Omar pun meningkat melalui tuduhan hukum terkait proses imigrasinya di masa lalu. Beberapa pihak sempat mengaitkan namanya dengan skandal penyalahgunaan dana program makanan anak senilai USD 250 juta atau sekitar Rp3,9 triliun di Minnesota, meski aparat hukum tidak pernah menemukan bukti keterlibatan langsung dirinya dalam tindak pidana tersebut.
Situasi semakin panas ketika otoritas federal melakukan penggeledahan di kediamannya terkait dugaan kebohongan usia dalam aplikasi imigrasi ayahnya bertahun-tahun lalu. Tindakan ini dianggap tidak wajar oleh banyak pihak karena dilakukan di tengah masa kampanye pemilu dan melanggar aturan tak tertulis yang melarang tindakan hukum terhadap kandidat politik menjelang pemungutan suara.
Bagi para pendukungnya, fenomena ini adalah bentuk intimidasi politik terhadap seorang perempuan Muslim yang berani menyuarakan kebenaran. Sementara bagi Trump, serangan terhadap sosok seperti Omar adalah bagian dari strategi untuk mempertahankan basis pendukungnya dengan mengangkat isu-isu identitas dan sentimen nasionalis yang ekstrem.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor












