
Aktivitas manusia kini mendorong laju kepunahan tanaman dan hewan ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena ini memicu kekhawatiran global mengenai ancaman kepunahan massal keenam yang dampaknya langsung menyentuh kesejahteraan masyarakat di seluruh dunia.
Biodiversitas secara sederhana dapat diibaratkan sebagai sebuah tim kerja di alam. Setiap spesies memiliki peran spesifik untuk mengatur cuaca, menjaga kesehatan tanah, memurnikan air, serta mendukung ketahanan pangan yang kita konsumsi sehari-hari.
Rebecca Shaw, kepala ilmuwan di organisasi konservasi WWF, menyatakan bahwa konsep ini memang terdengar abstrak namun dialami manusia setiap hari. Sayangnya, kita sering abai terhadap fungsi alam sampai kerusakan sistem tersebut benar-benar terjadi.
Data dari Living Planet Report yang dirilis WWF menunjukkan penurunan populasi vertebrata mencapai 73 persen dalam 52 tahun terakhir. Kondisi ekosistem air tawar justru lebih memprihatinkan dengan tingkat penurunan populasi mencapai 85 persen.
Situasi ini mendesak perwakilan sekitar 200 negara untuk berkumpul di Yerevan, Armenia, dalam pertemuan PBB mengenai keanekaragaman hayati atau COP17. Fokus utama mereka adalah mempercepat komitmen global untuk memulihkan kerusakan alam paling lambat pada tahun 2030.
Tantangan terbesar yang dihadapi dalam upaya ini mencakup ketersediaan pendanaan serta implementasi kebijakan di tingkat lapangan. Sebagai gambaran, sekitar 85 persen lahan basah di dunia telah lenyap dalam kurun waktu 1700 hingga 2000.
Sebuah studi dari University of Waterloo, Kanada, mengungkapkan bahwa lahan basah di Ontario selatan memberikan jasa filtrasi air senilai 4,2 miliar dolar Kanada (sekitar Rp47,6 triliun) setiap tahun. Hilangnya ekosistem ini secara otomatis meningkatkan biaya pemurnian air minum bagi warga setempat.
Penurunan populasi serangga penyerbuk seperti lebah dan kelelawar juga mengancam pasokan pangan global. Lebih dari 75 persen tanaman pangan di dunia sangat bergantung pada bantuan hewan penyerbuk untuk proses reproduksinya.
Tidak hanya pangan, alam juga menjadi fondasi bagi kemajuan dunia medis modern. Sekitar 50 persen obat-obatan yang digunakan saat ini berasal dari senyawa alami yang ditemukan di berbagai ekosistem di seluruh dunia.
Penisilin, antibiotik pertama di dunia yang berasal dari jamur, telah menyelamatkan lebih dari 500 juta jiwa sejak ditemukan. Tanpa kekayaan biodiversitas, manusia berisiko kehilangan akses terhadap penemuan pengobatan medis baru untuk penyakit di masa depan.
Beberapa spesies yang dikenal sebagai spesies kunci memiliki dampak yang sangat besar jika hilang dari lingkungannya. Contohnya adalah kerang tiram yang mampu menyaring hingga 190 liter air per hari serta melindungi masyarakat pesisir dari terjangan badai.
Meski data penurunan spesies sangat mengkhawatirkan, para pakar menekankan bahwa hal ini bukan alasan untuk merasa putus asa. Beberapa keberhasilan konservasi telah membuktikan bahwa alam memiliki kemampuan luar biasa untuk pulih jika diberikan kesempatan.
Populasi penyu hijau di berbagai belahan dunia berhasil meningkat setelah adanya perlindungan ketat terhadap pantai tempat mereka bertelur. Selain itu, praktik penangkapan ikan yang lebih berkelanjutan juga berkontribusi besar dalam menjaga populasi hewan laut ini.
Contoh lain adalah keberhasilan pemulihan populasi berang-berang laut di pesisir Pasifik Amerika Serikat. Setelah perburuan komersial dilarang, populasi mereka kembali meningkat dan secara tidak langsung membantu pemulihan hutan rumput laut yang penting bagi perlindungan iklim.
Upaya untuk membalikkan kondisi ini memang baru mencapai skala kecil. Tantangan nyata bagi dunia saat ini adalah meningkatkan skala keberhasilan tersebut ke tingkat global agar indikator keanekaragaman hayati kembali membaik.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor