
Bank Indonesia memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi global akan berada di kisaran 3,0 persen pada 2026. Angka tersebut mencerminkan tantangan besar yang tengah membayangi prospek perekonomian dunia.
Tekanan geopolitik yang berkepanjangan serta ketidakpastian di pasar keuangan internasional menjadi faktor utama yang memicu pelemahan ini. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan proyeksi tersebut dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Selain pertumbuhan yang terbatas, inflasi global diperkirakan masih akan bertahan di level 4,6 persen. Tingginya angka inflasi tersebut terutama dipicu oleh harga minyak dan komoditas yang sulit turun dalam jangka pendek.
Destry menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah adalah pemicu utama yang mempertahankan tekanan harga komoditas global. Situasi ini membuat biaya produksi di berbagai sektor industri tetap berada di level tinggi sehingga menggerus daya beli masyarakat dunia.
“Kondisi ini dipengaruhi oleh makin kuatnya tensi perang di Timur Tengah sehingga mendorong tetap tingginya harga minyak dan berbagai komoditas dunia,” ujar Destry Damayanti.
Selain persoalan geopolitik, bank sentral di berbagai negara diperkirakan masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam periode yang lebih panjang. Langkah ini ditempuh sebagai upaya untuk menjinakkan inflasi yang membandel.
Ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi sorotan utama bagi investor global. Muncul peluang kenaikan kembali suku bunga acuan Federal Reserve atau Fed Funds Rate, yang merupakan bunga acuan untuk pinjaman antarbank di AS.
Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, atau US Treasury, turut memperumit situasi ekonomi global. Imbal hasil ini mencerminkan imbalan yang didapat investor ketika memegang surat utang pemerintah, yang saat ini berada di level tinggi akibat ekspektasi pasar terhadap defisit anggaran negara tersebut.
Perkembangan di pasar obligasi AS turut memengaruhi pergerakan modal di pasar keuangan internasional secara luas. Investor global kini cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka ke pasar berkembang.
Destry mencatat bahwa minat investor terhadap aset portofolio di negara berkembang masih cukup terbatas. Hal ini mengakibatkan indeks dolar Amerika Serikat atau DXY terus menguat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.
Menghadapi berbagai tekanan eksternal tersebut, Bank Indonesia menekankan perlunya koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal dan moneter. Sinergi antara pemerintah dan bank sentral dianggap sebagai kunci utama untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah guncangan ekonomi dunia. Stabilitas yang terjaga akan menjadi modal penting untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Kondisi ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” tegas Destry menutup keterangannya.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor