Bitcoin Mengalami Penurunan Misterius, 'Uptober' Mengecewakan

Bulan Oktober, yang kerap dijuluki 'Uptober' karena kecenderungan kenaikan harga aset kripto, justru memberikan kejutan sebaliknya. Bitcoin (BTC) kini diperdagangkan di kisaran USD 83.000 (sekitar Rp1,3 miliar), mencatat penurunan 3,2% dalam sepekan terakhir. Puncak harga tercatat mendekati USD 87.000 awal pekan lalu, sebelum anjlok ke USD 81.000 pada hari Senin, sebuah koreksi sekitar 7%, meskipun sempat menunjukkan sedikit pemulihan.
Sentimen pasar pun ikut merespons pergerakan harga tersebut. Indeks Crypto Fear & Greed (Ketakutan & Keserakahan Kripto) turun ke angka 56, yang menunjukkan kondisi netral. Angka ini menurun dari 67 sepekan sebelumnya dan jauh dari puncak 82 pada bulan Agustus, level tertinggi di tahun ini.
Penurunan ini mengembalikan indeks ke level yang sama seperti sebelum reli musim panas, yang sempat membuat para analis seperti Tom Lee dan Ki Young Ju dari CryptoQuant mengumumkan berakhirnya pasar beruang (bear market).
Aset kripto lain atau 'altcoin' bahkan mengalami dampak yang lebih parah. Dalam tujuh hari terakhir, Solana (SOL) turun 11%, HYPE 12%, Dogecoin (DOGE) 12%, Ripple (XRP) 10%, dan Ethereum (ETH) 8%. Pasar prediksi pun turut mendingin. Peluang Bitcoin mencapai USD 87.500 di bulan Oktober turun dari 55% menjadi 45%, sementara kemungkinan penurunan ke USD 80.000 kini dihargai 56%.
Para analis terpecah belah dalam menafsirkan latar belakang makroekonomi yang memengaruhi pasar. Daniela Hathorn dari Capital.com berpendapat bahwa investor masih memperlakukan Bitcoin sebagai aset berisiko, bukan sebagai lindung nilai geopolitik. Namun, James Butterfill dari CoinShares menawarkan pandangan sebaliknya.
Ia menyatakan bahwa jika kenaikan imbal hasil (yield) disebabkan oleh kekhawatiran utang Amerika Serikat, bukan pertumbuhan ekonomi yang kuat, maka Bitcoin justru terlihat lebih seperti alternatif dari uang pemerintah ketimbang aset berisiko.
Katalisator utama yang dinanti selanjutnya adalah data inflasi Amerika Serikat, yaitu Indeks Harga Konsumen (CPI), yang akan dirilis Rabu ini. Data yang menunjukkan perlambatan inflasi dapat menarik imbal hasil turun dan memberikan ruang bagi aset berisiko untuk bergerak naik. Sebaliknya, data inflasi yang panas, terutama dengan harga minyak di kisaran USD 110 per barel, dapat membuka kembali diskusi mengenai kenaikan suku bunga.
Hingga informasi tersebut dirilis, pasar kemungkinan akan terus bergejolak dan bergerak menyamping.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor















