Bolehkah Gonta-ganti Merek BBM dengan RON Sama? Ini Penjelasan Teknisi

Kebiasaan pengemudi kendaraan bermotor di Indonesia untuk beralih merek bahan bakar minyak (BBM) dengan nilai RON yang sama kini menjadi sorotan.
Banyak pemilik kendaraan merasa aman melakukan tindakan tersebut karena menganggap spesifikasi teknis bahan bakar tidak berubah, asalkan nilai oktan atau Research Octane Number tetap sama. Padahal, keputusan mencampur atau berganti-ganti merek secara terus-menerus memiliki implikasi teknis pada performa mesin jangka panjang.
Secara umum, mengganti merek bahan bakar dengan nilai oktan yang serupa tidak menimbulkan masalah jika dilakukan sesekali. Kondisi ini sering kali terpaksa dilakukan pengendara saat situasi darurat, misalnya ketika SPBU langganan tidak tersedia di sekitar lokasi perjalanan.
Baca Juga:
- Harga Tiket Konser BIGBANG di Jakarta 2027 Resmi Diumumkan PK Entertainment
- Pendaftaran OMI Kemenag 2026 Dibuka, Simak Jadwal Lengkap dan Syaratnya
- Cara Cek Desil Kemensos 2026: Panduan Resmi dan Mekanisme Sanggah Data
Secara kimiawi, bahan bakar pada dasarnya merupakan campuran rantai hidrokarbon dengan unsur yang mirip antara satu merek dengan lainnya. Karena komposisinya tidak berbeda jauh, pencampuran residu di dalam tangki kendaraan biasanya masih berada dalam batas aman dan tidak akan merusak sistem pembakaran dalam sekejap.
Namun, pemilik kendaraan tetap disarankan untuk meminimalisir sisa bahan bakar lama sebelum mengisi merek baru. Cara ini dilakukan agar mesin memiliki jeda adaptasi yang cukup sebelum sepenuhnya menggunakan komposisi kimia dari produk yang berbeda.
Risiko mulai muncul ketika pergantian merek dilakukan secara rutin atau terus-menerus. Setiap produsen bahan bakar memiliki formula khusus atau aditif tambahan yang berbeda guna mendukung performa mesin.
Aditif merupakan zat kimia pelengkap yang dicampurkan ke dalam BBM untuk membersihkan deposit karbon atau meningkatkan efisiensi pembakaran. Jika formula ini sering berubah-ubah akibat gonta-ganti merek, sistem pembakaran di dalam mesin harus menyesuaikan diri berulang kali.
Mesin kendaraan memiliki rasio kompresi spesifik yang dirancang untuk bekerja dengan karakteristik bahan bakar tertentu. Penggunaan bahan bakar yang tidak konsisten berpotensi mengganggu ritme pembakaran di dalam silinder.
Gangguan pada sistem pembakaran dapat menurunkan performa mesin secara bertahap atau bahkan memicu kerusakan pada komponen internal jika dibiarkan dalam waktu lama. Dampak nyata yang sering dirasakan pengendara meliputi tarikan mesin yang terasa lebih berat atau konsumsi bahan bakar yang menjadi tidak efisien.
Sebagai langkah pencegahan, sangat dianjurkan bagi pemilik kendaraan untuk memilih satu merek bahan bakar yang konsisten. Stabilitas jenis bahan bakar akan menjaga kebersihan ruang bakar tetap terjaga sesuai dengan rekomendasi pabrikan kendaraan.
Jika harus berpindah merek, lakukanlah transisi tersebut secara perlahan agar mesin tidak kaget dengan perubahan formula aditif. Menjaga kondisi mesin tetap prima melalui pemilihan bahan bakar yang tepat merupakan investasi jangka panjang bagi setiap pemilik kendaraan.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor













