
Pernah nggak sih kamu ngerasa kayak udah ngasih segalanya, tapi di mata dia itu semua nggak ada harganya?
Rasanya pengen marah, tapi malah lemes sendiri pas sadar kalau selama ini kamu berjuang sendirian buat orang yang bahkan nggak nengok ke arahmu. Kamu nggak jahat kalau sekarang milih buat tutup pintu rapat-rapat, karena itu cara satu-satunya buat kamu tetap waras.
Dulu aku tipe orang yang selalu ada kapan pun mereka butuh, tanpa mikir dua kali soal kenyamanan aku sendiri.
Aku dengerin semua keluh kesah mereka, aku bantu sebisa mungkin, sampai-sampai aku lupa kalau aku juga punya batas capek. Masalahnya, pas gantian aku yang butuh sandaran, mereka mendadak hilang kayak ditelan bumi.
Lucu ya, gimana orang bisa dengan gampangnya lupa sama kebaikan kita pas mereka udah nggak butuh lagi. Mereka datang pas badai, terus pergi gitu aja pas pelangi dateng, tanpa ada rasa terima kasih sedikit pun. Ternyata, yang paling bikin sakit itu bukan ditolak, tapi nggak dianggap sama sekali.
Aku baru sadar kalau menjadi cuek itu bukan berarti aku jadi orang jahat atau nggak punya perasaan.
Ini cuma soal memilih siapa yang layak dapet energi aku, karena ternyata stok sabarku nggak sebanyak yang aku kira selama ini. Aku mulai belajar kalau nggak semua orang berhak dapet sisi terbaik aku, apalagi mereka yang cuma tahu cara meminta tanpa pernah memberi. Membatasi diri itu rasanya melegakan banget, kayak baru aja bisa napas setelah lama tenggelam dalam ekspektasi orang lain.
Mulai sekarang, coba deh lebih pelit sedikit sama perhatianmu, simpan itu buat orang-orang yang emang tahu caranya bilang makasih lewat perbuatan mereka. Menghargai diri sendiri itu jauh lebih penting daripada capek-capek cari pengakuan dari orang yang emang dari awal nggak pernah punya niat buat peduli sama kamu.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor