
Keluhan nyeri leher kini semakin banyak dialami oleh kelompok usia muda seiring dengan meningkatnya durasi duduk dalam aktivitas harian.
Pemilik sekaligus Chief Physiotherapist Physiorehab, Simon Tri Prasetyo, menjelaskan bahwa pola keluhan pasien sering kali berbeda berdasarkan rentang usia. Masalah fisik yang muncul cenderung spesifik pada area pinggang atau leher.
Simon mengungkapkan bahwa pasien muda saat ini lebih sering mengeluhkan nyeri pada area leher. Sebaliknya, mereka yang berusia 40 hingga 50 tahun lebih dominan mengalami masalah pada area pinggang.
Kondisi nyeri leher tersebut dipengaruhi oleh posisi tubuh yang tidak ergonomis selama bekerja. Kebiasaan membungkuk atau posisi kepala yang terlalu maju ke depan, yang dikenal sebagai forward head posture, memicu beban berlebih pada otot leher jika dipertahankan terlalu lama.
Aktivitas fisik tetap menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan tulang belakang meski pekerjaan menuntut seseorang duduk dalam waktu panjang. Simon mencontohkan bahwa dalam sebuah kantor, mereka yang rutin berolahraga memiliki risiko cedera yang jauh lebih rendah dibanding rekan kerja yang kurang aktif.
Olahraga bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga kondisi tubuh tetap bugar di tengah padatnya pekerjaan kantoran. Bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu untuk berolahraga intensif, berjalan kaki dapat menjadi solusi praktis.
Jumlah langkah harian yang ideal bagi orang dewasa berada pada kisaran 7.000 hingga 8.000 langkah. Penggunaan jam tangan digital dapat membantu memantau target pergerakan tubuh agar tetap tercapai setiap harinya.
Fisioterapi modern kini menekankan pentingnya pemahaman kebutuhan individu sebelum menentukan jenis latihan yang akan dilakukan. Setiap pasien memiliki kondisi medis, tingkat aktivitas, dan target pemulihan yang berbeda satu sama lain.
Dalam menangani kasus yang lebih kompleks, fisioterapis sering berdiskusi dengan dokter spesialis, terutama dokter ortopedi atau ahli bedah tulang. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa pendekatan terapi yang diterapkan sesuai dengan diagnosis medis pasien.
Physiorehab sendiri telah menjalin jejaring profesional dengan berbagai fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit di Singapura dan Penang. Hal ini memungkinkan alur penanganan pasien menjadi lebih komprehensif, mulai dari tahap diagnosis hingga rehabilitasi pascaoperasi.
Fenomena nyeri leher pada usia produktif di Indonesia memang perlu diwaspadai sebagai dampak dari gaya hidup sedenter. Kesadaran untuk melakukan peregangan berkala dan memperbaiki postur duduk dapat membantu mencegah risiko cedera kronis di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor