CEO Hyperliquid Sebut Model Kekayaan Wall Street Kini Sulit Diakses Publik

Model penciptaan kekayaan di Wall Street dinilai tidak lagi berkelanjutan bagi sebagian besar pelaku pasar ritel saat ini.
Kesenjangan akses menjadi sorotan utama dalam sistem keuangan tradisional yang dinilai terlalu eksklusif bagi kalangan tertentu. Jeff Yan, salah satu pendiri sekaligus CEO Hyperliquid, mengungkapkan bahwa peluang investasi besar seringkali tertutup bagi publik hingga perusahaan resmi melantai di bursa saham.
Kondisi ini menyebabkan investor ritel kehilangan momentum pertumbuhan harga yang signifikan sebelum saham diperdagangkan secara luas. Sebagian besar keuntungan justru telah dinikmati oleh segelintir kelompok yang memiliki hak istimewa lebih awal.
Dalam diskusi di ajang Token2049 Singapura, Yan menegaskan bahwa model pertumbuhan aset seperti itu sudah tidak lagi relevan bagi ekonomi modern. Ia menyebutkan bahwa model lama tersebut sulit dipertahankan dalam jangka panjang karena menciptakan ketimpangan yang lebar.
Sebagai solusi, Hyperliquid hadir melalui bursa desentralisasi untuk membuka akses lebih luas terhadap peluang ekonomi berbasis blockchain. Fokus utama perusahaan adalah meningkatkan partisipasi publik dalam sistem keuangan global tanpa hambatan akses yang berarti.
Pendapatan yang diraih perusahaan diklaim hanya menjadi produk sampingan dari misi demokratisasi akses aset. Berdasarkan data dari DefiLlama, Hyperliquid kini menempati posisi ketiga sebagai protokol penghasil pendapatan terbesar di sektor keuangan terdesentralisasi atau DeFi.
Protokol tersebut berhasil mencatatkan pendapatan sebesar USD 72 juta, atau sekitar Rp1,1 triliun, hanya dalam kurun waktu 30 hari terakhir. Angka ini mencerminkan tingginya minat pasar terhadap instrumen yang ditawarkan platform tersebut.
Kesuksesan ini ditopang oleh penggunaan kontrak berjangka abadi atau perpetual futures yang tidak memiliki tanggal kedaluwarsa. Fitur ini mempermudah trader dalam mengambil keputusan sekaligus mencegah fragmentasi likuiditas di pasar kripto.
Manajer aset Pantera bahkan memprediksi bahwa kontrak berjangka abadi berpotensi menjadi instrumen dominan dalam keuangan global di masa depan. Struktur kontrak ini menawarkan keunggulan yang mampu menantang dominasi pasar tradisional yang masih konvensional.
Perkembangan ini mulai menarik perhatian pemain besar di dunia keuangan tradisional, termasuk induk usaha Bursa Efek New York atau NYSE, yakni Intercontinental Exchange (ICE). CEO ICE, Jeffrey Sprecher, mendorong regulator untuk menciptakan aturan yang setara bagi perdagangan kontrak berjangka berbasis rantai blok selama 24 jam penuh.
Langkah ini sejalan dengan upaya NYSE yang mulai menjajaki infrastruktur perdagangan saham berbasis teknologi blockchain. Sebelumnya, bursa tersebut telah bermitra dengan platform tokenisasi Securitize untuk memodernisasi sistem penyelesaian transaksi agar dapat beroperasi setiap waktu tanpa jeda.
Inovasi di sektor aset digital terus menekan batasan sistem keuangan lama yang selama ini dianggap kaku dan tertutup. Tekanan untuk menciptakan ekosistem yang lebih inklusif kini menjadi tuntutan nyata di tengah pesatnya adopsi teknologi finansial secara global.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor












