Bitmine Tetapkan Batas Maksimal Kepemilikan Ether di Angka 5 Persen

Bitmine Immersion Technologies secara resmi menetapkan batas maksimal kepemilikan aset kripto Ether mereka di angka 5 persen dari total pasokan yang beredar di pasar global.
Keputusan ini disampaikan langsung oleh Chairman Bitmine, Tom Lee, dalam gelaran konferensi kripto Token2049 yang berlangsung di Singapura pada Rabu lalu. Langkah tersebut diambil sebagai respons atas posisi perusahaan yang kini hampir mencapai target akumulasi aset mereka.
Saat ini, perusahaan telah mengumpulkan sekitar 6 juta ETH, atau setara dengan 4,9 persen dari total pasokan yang ada di dunia. Mereka hanya membutuhkan sekitar 100.000 ETH lagi untuk menyentuh target batas atas tersebut.
“Itu adalah batas mutlak. Kami tidak akan melakukan akumulasi melampaui 5 persen,” tegas Lee di hadapan para peserta konferensi. Pernyataan ini sekaligus mengoreksi arah kebijakan perusahaan yang sebelumnya sempat membuka peluang untuk menambah kepemilikan tergantung pada tingkat adopsi Ethereum di masa depan.
Sebelumnya, dalam sebuah sesi wawancara pada bulan Agustus, Lee sempat memberi sinyal bahwa perusahaan mungkin meninjau kembali ambang batas tersebut pada tahun 2027. Namun, strategi kini telah berubah seiring dengan realisasi akumulasi yang dilakukan selama periode pasar kripto yang lesu atau yang sering disebut sebagai bear market.
Menurut Lee, langkah mengakumulasi aset saat harga pasar berada di titik rendah memberikan keuntungan strategis bagi perusahaan. Mereka berhasil membangun posisi yang kuat ketika minat pasar sedang menurun, yang kemudian berperan sebagai bantalan bagi nilai ETH itu sendiri.
“Kami melakukan semua pembelian ini di masa pasar sedang tertekan. Kami melindungi penurunan harga ETH karena kami terus melakukan aksi beli,” jelas Lee. Ia menambahkan bahwa perusahaan kini telah menghentikan proses pengumpulan aset secara besar-besaran untuk menyambut potensi lonjakan nilai di masa mendatang.
Penetapan batas maksimal ini juga berkaitan langsung dengan strategi modal Bitmine secara keseluruhan. Dengan berhenti mengakumulasi, perusahaan tidak lagi memerlukan upaya penggalangan dana tambahan hanya untuk membiayai pembelian Ether baru.
“Dengan adanya batas maksimal 5 persen, ini berarti kami akan memberikan kinerja yang lebih baik dibandingkan harga ETH itu sendiri saat pasar sedang naik. Para investor tidak perlu khawatir lagi mengenai upaya kami menggalang modal baru karena tugas kami sudah selesai,” ungkap Lee lebih lanjut.
Strategi pendanaan Bitmine selama ini memang cukup agresif, termasuk peluncuran penawaran saham preferen senilai USD 300 juta atau sekitar Rp4,6 triliun pada bulan Juni lalu. Mereka juga menjalankan program pembelian kembali saham senilai USD 4 miliar (sekitar Rp61,5 triliun) sebagai bagian dari manajemen aset mereka.
Meski pembelian Ether di pasar terbuka akan dihentikan, kepemilikan Bitmine berpotensi tetap bertambah melalui proses staking. Staking adalah mekanisme di mana pemegang koin mengunci aset mereka dalam jaringan blockchain untuk memvalidasi transaksi dan mendapatkan imbalan berupa koin baru.
Lee menegaskan bahwa perusahaan kemungkinan akan menjual aset ETH yang dihasilkan dari proses staking tersebut. Langkah ini dilakukan agar porsi kepemilikan mereka tidak melampaui batasan 5 persen yang telah ditentukan sebelumnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor











