
Kebiasaan mengonsumsi obat-obatan tanpa pengawasan medis dan pola makan yang buruk berisiko besar mengganggu fungsi ginjal manusia. Penurunan fungsi ginjal ini sering kali tidak disadari oleh masyarakat hingga kondisinya mencapai stadium lanjut yang memerlukan penanganan hemodialisis atau cuci darah.
Dokter spesialis urologi dari Bethsaida Hospital, dr Boyke Budiman Sumantri, Sp.U, menjelaskan bahwa ginjal bekerja ekstra keras saat menyaring zat kimia dari produk yang masuk ke dalam tubuh.
Menurut Boyke, salah satu pemicu utama kerusakan organ filtrasi ini adalah penggunaan obat-obatan kimia maupun ramuan herbal tradisional yang tidak terkontrol. Banyak orang salah kaprah dengan menganggap semua produk berlabel herbal sepenuhnya aman dikonsumsi tanpa batas. Padahal, beberapa kandungan dalam jamu tradisional yang tidak terstandardisasi justru berpotensi memicu efek toksik pada ginjal.
Baca Juga:
Ia mencontohkan konsumsi suplemen harian seperti vitamin C yang kerap diminum secara berlebihan demi menjaga daya tahan tubuh secara instan. Konsumsi zat tersebut sebenarnya memiliki banyak manfaat, namun menjadi sia-sia dan berbahaya jika dikonsumsi setiap hari tanpa indikasi medis yang jelas.
"Sebenarnya vitamin C juga bagus, tapi kalau dikonsumsi setiap hari buat apa?" ujar Boyke dalam sebuah program diskusi kesehatan di Jakarta.
Kekhawatiran ini sejalan dengan data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan tren peningkatan penderita gagal ginjal kronis di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, prevalensi penyakit ginjal kronis pada penduduk usia 15 tahun ke atas terus merangkak naik hingga mencapai kisaran 3,8 per mil. Sebagian besar kasus baru terdeteksi setelah pasien mengalami komplikasi berat akibat akumulasi zat sisa yang gagal disaring oleh tubuh.
BPJS Kesehatan bahkan menempatkan terapi penyakit ginjal sebagai salah satu beban biaya katastrofik terbesar di tanah air. Kondisi ini menunjukkan betapa rendahnya kesadaran publik terhadap deteksi dini dan pencegahan penyakit ginjal sejak dini.
Selain konsumsi obat, pola makan yang tidak sehat seperti konsumsi makanan tinggi garam dan pengawet juga memperburuk kondisi organ vital ini.
Ginjal memiliki peran vital sebagai penyaring darah utama yang mengurai zat-zat hasil metabolisme makanan sebelum dibuang melalui urine. Ketika tubuh kekurangan cairan atau jarang bergerak, zat sisa tersebut akan mengendap dan membentuk kristal mikro di dalam ginjal. Kristal yang dibiarkan menumpuk ini lambat laun akan menggumpal membentuk batu ginjal yang menyumbat saluran kemih.
"Akibatnya dia akan menggumpal menjadi batu," jelas Boyke menggambarkan proses pengendapan zat sisa metabolisme tersebut.
Gaya hidup sedentari atau kurang berolahraga mempercepat proses pembentukan batu tersebut karena sirkulasi cairan tubuh tidak optimal. Boyke mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam mengonsumsi obat, suplemen, maupun produk herbal dengan selalu berkonsultasi kepada dokter spesialis.
Penyesuaian dosis obat dengan kondisi fisik individu sangat diperlukan agar beban kerja organ filtrasi tetap berada dalam batas aman. Pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala melalui tes urine atau darah juga disarankan bagi individu yang rutin mengonsumsi obat jangka panjang. Langkah preventif ini dapat mencegah kerusakan organ sebelum berkembang menjadi gagal ginjal permanen.
"Mengonsumsi itu harus bijaksana, sesuai dengan kebutuhan," tambahnya.
Selain membatasi asupan zat kimia yang tidak perlu, mencukupi kebutuhan hidrasi harian dengan minum air putih minimal dua liter per hari menjadi langkah pencegahan paling efektif. Aktivitas fisik secara rutin juga membantu menjaga tekanan darah tetap stabil, yang secara langsung berdampak positif pada kesehatan pembuluh darah ginjal.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor